Laman

Emas Muslihudin Phon : 082118164111

Jumat, 05 Maret 2010

 Kehadiran Hati Dalam Shalat

“Kehadiran kekhusyuan hati dalam shalat adalah roh shalat yang sesungguhnya, merupakan sebab taqorrub ilallah (kedekatan pada Allah) bagi orang bertaqwa, mi’raj nya orang beriman dan perbuatan terbaik”

Ibadah, dan shalat pada khususnya merupakan susunan suci ilahi yang tersedia dari tangan Yang maha besar. Semua itu modal kehidupan kita di akhirat nanti, kesempurnaan dan kekurangan, terang dan gelapnya tergantung pada roh gaib dan hembusan ilahi yang dapat disaksikan oleh hati nurani. Betapa banyak orang menunaikan ibadah shalat akan tetapi, karena tidak adanya roh shalat, dia tidak meraih keuntungan apapun, bahkan shalat tersebut diikat dan dilemparkan ke muka pelakunya.


Roh dan otak shalat adalah kehadiran hati, tanpanya shalat akan ditolak oleh Yang maha suci, dan tidak berbekas kecuali kesengsaraan dunia-akhirat, di samping itu pula dalam aspek sosial tidak dapat mencegah kekejian dan kemungkaran.

Mengingat pentingnya hal tersebut di atas, berkat inayah Allah dan perhatian Imam Zaman -ajjalallohu farojahus syarif- saya berusaha menuliskan kajian bertemakan Kehadiran Hati Dalam Shalat, dengan harapan semoga Allah dan para Walinya rela akan usaha ini, dan memberiku taufik lebih besar dalam menyebarkan ajaran islam, insyaAllah.

Definisi Kehadiran Hati

Terlebih dahulu kita harus mendefinisikan hati. Syahid Tsani menyebutkan dua arti bagi qolb (hati): pertama adalah daging yang berbentuk sanubari dan -memiliki keriteria-keriteria tersebut di dalam buku kedokteran-. Kedua, naruni rohani ilahi yang juga berhubungan erat dengan sanubari tersebut, naruni ini disebut dengan beragam kata, seperti hati, jiwa, roh, dan insan. Naruni itu tidak lain adalah yang mengetahui, lawan bicara al-Quran, yang diminta dan terkadang dihina al-Quran atau hadis, dialah yang menjalin hubungan special dengan sanubari, dimana mayoritas akal manusia tidak dapat memahaminya.

Pada hakekatnya hubungan itu semacam hubungan sifat dengan benda seperti putih, bahkan sifat dengan yang disifati, atau seperti hubungan pemakai dengan yang dipakai dan yang bertempat dengan tempat dll. Adapun hati yang kita maksud disini adalah arti kedua, dimana Syahid Dastghib mengibaratkannya pada roh atau jiwa metafisik yang harus dibersihkan sehingga berkat tampaknya alam malakut niscaya akan meraih keuntungan lebih besar.

Syahid Dastghib mendefinisikan kehadiran hati dalam shalat adalah sebuah konsentrasi pada ucapan dan gerakan shalat serta pengosongan pikiran dari yang selain shalat. Sebagian ulama mengatakan (definisi lain) hendaknya ketika shalat tidak disibukkan dengan prihal yang melalaikan dari shalat, dan sebatas seseorang konsentrasi pada dhohirnya gerakan dan ucapan shalat, itu cukup dalam terwujudnya kehadiran hati. Sebagian lagi menyebutkan bahwa kehadiran hati adalah pengosongan hati dari selain Allah dan tidak menyetir kuda pemikirannya pada selain itu.

Hanya saja lebih baik apabila kita mendefinisikan kehadiran hati dalam shalat dengan kosongnya hati ketika shalat dari selain Allah atau shalat. Sebab definisi ini mencakup semua martabat kehadiran hati dalam shalat, sedangkan definisi pertama dan kedua tidak mencakup derajat tertinggi kehadiran hati seperti fana dalam dzat Allah. Sebaliknya definisi ketiga yang tidak mencakup martabat dibawah fana’ contohnya, seperti konsentrasi pada gerakan dan ucapan shalat.

Urgensitas Kehadiran Hati

Kepastian surga bagi pemilik hati
Asas dari kehadiran hati dalam beribadah adalah cinta dan takut, apabila keduanya bergabung dalam hati ketahuilah Allah memastikan surga baginya. Perinciannya, setiap kali seseorang sangat menakuti Allah, kemudian sangat mencintainya, pasti terselamatkan dari api neraka, dan tentunya masuk surga. Karena ketika dia takut pada-Nya maka selamanya tidak akan bermaksiat pada-Nya. Tentunya akan selalu mentaati seluruh perintah dan larangannya, hanya saja kendatipun ketaatan ini – walaupun seratus persen- cukup berharga, tapi masih ada ketaatan yang lebih berharga yaitu, ketaatan yang muncul dari cinta kepada-Nya. Tentunya cinta tidak akan tumbuh tanpa pengetahuan sebelumnya. Inilah ketaatan dan ibadah para Wali Allah, bukan terhitung dalam bab takut jahannam atau ingin surga, tapi lebih dari itu semua.

Setelah dimengerti sesungguhnya takut dan cinta melahirkan ketaatan, premis berikutnya adalah, semua ketaatan dan pengabdian pada Allah melahirkan entah masuk ke surga atau lebih tinggi dari itu. Yakni sampai derajat dimana masuk surga bagi mereka bukanlah hal penting, bahkan merekalah yang menentukan dan mengarahkan seseorang kesurga serta memberi syafaat. Dari dua mukaddimah diatas dapat disimpulkan bahwa semua orang yang di dalam hatinya terkumpulkan takut dan cinta niscaya Allah memastikan surga baginya bahkan lebih.

Kehadiran hati adalah rohnya ibadah
Untuk menjelaskan bahwa roh ibadah adalah kehadiran hati sehingga tanpanya apalah arti ibadah yang mati dan tidak memiliki bentuk malakuti. Imam Khumaini berkata, ” Jiwa ibadah, lengkap dan sempurnanya bergantung pada kehadiran hati dan konsentrasinya. Ibadah mati tidak akan diterima Maqom Ahadiyat, tidak menerima ramah dan rahmat-Nya, serta jatuh dari perhitungan. Sebaliknya sebatas kesempurnaan ikhlas dan kehadiran hati, sebagai dua rukun ibadah, roh yang tertiup didalamnya lebih suci, kebahagiaannya lebih sempurna, dan bentuk malakutinya lebih bercahaya”.

Imam Khomaini juga ingin menjelaskan bahwa kehadiran hatilah yang mencegah seseorang dari kekejian dan kemungkaran. Imam menekankan menekankan kehadiran hati merupakan mukaddimah ibadah, dan tanpanya ibadah akan mati, kehadiran hati adalah kunci semua kesempurnaan dan pintu semua kebahagiaan. Dialah otak ibadah yang mencegah dari kekejian dan kemungkaran. Tentunya pencegahan ini tidak berbentuk indrawi, akan tetapi didalam hati seseorang terdapat lentera dan sinar terang sebagai penunjuk dan pencegah.

Diterimanya shalat tergantung pada kehadiran hati
Salah satu bukti urgensitas kehadiran hati adalah ketergantungan penerimaan shalat padanya. Artinya semua ibadah khususnya shalat akan diterima apabila disertai kehadiran hati, sisanya akan diikat dan ditamparkan ke muka pelakunya, dan tidak akan pernah diterima. Hanya saja perlu diketahui bahwa dari sudut pandang taklif dalam fiqih ketika seseorang telah melaksanakan shalat maka pena kewajiban terangkat darinya kendatipun tidak disertai kehadiran hati.

Syahid Tsani berkata, Allah swt berfirman: “fawailun lil mushollin alldzina hum ‘an sholatihim sahun”, celakalah para pelaku shalat yang lupa akan shalatnya. Allah mencela mereka bukan karena mereka meninggalkan shalat melainkan karena kelalaian mereka terhadap shalat. Artinya Allah mencela mereka karena kelalaian dari rohnya shalat, bukan peninggalannya karena ini melawan syariat, dan dari hinaan inilah kita memahami penolakan shalat tanpa kehadiran hati.

Syahid Dastghib menjelaskan bahwa akal sehat, ayat, dan riwayat menegaskan bahwasanya syarat pengaruh shalat dalam qurbatan ilallah (kedekatan pada Allah) adalah kehadiran hati, memenuhi syarat-syarat, dan menghindari rintangan-rintangan. Dan tidak berpengaruh dalam kedekatan tersebut artinya penolakan. Sekali lagi saya tekankan bahwa tidak diterima bukan berarti tetap adanya pena taklif.

Tanpanya berdampak keluar dari wilayah dan syafaat
Ada beberapa riwayat yang menegaskan akan mengeluarkan orang-orang yang meremehkan shalat dari wilayah dan syafaat kenabian dan kema’suman. Karena kemungkinan bahkan kepastian tergolongnya orang yang tidak mementingkan roh shalat dalam peremeh shalat, maka saya meletakkannya dalam barisan bukti urgensitas kehadiran hati. Imam Khomaini menjelaskan bahwa seorang yang tidak mempunyai peluangan waktu sebagai mukaddimah peluangan hati dan keduanya pendiri kehadiran hati, maka dia telah meremehkan shalat. Kalaupun proposisi ini tidak harus (dloruri) tapi pasti(jazmi), maka bila positif maka pada kenyataannya dia telah keluar dari wilayah para ma’sum dan tidak meraih syafaat mereka.

Supaya anda dapat merasakan pentingnya hal ini, marilah kita perhatikan hadis-hadis berikut. Dari Muahammad bin Ya’qub dengan pensanadan pada Abi Ja’far (Imam Muahammad Baqir) a.s bersabda: “Janganlah kamu meremehkan shalatmu sesungguhnya Rasulullah -saww- bersabda” orang yang meremehkan shalatnya tidak tergolong dariku, bukanlah dariku orang yang minum arak, demi Allah dia tidak akan datang padaku di haudl”.

Dengan pensanadan dia dari Abi Basir berkata: Abul Hasan Al-awwal (Imam Ridlo?) a.s bersabda: “Ketika ayahku akan wafat dia berkata padaku: wahai anakku, orang yang meremehkan shalatnya tidak akan mendapatkan syafaat kita” (Furu’ al-Kafi 3, 269/270). Hadis semacam ini sangat banyak, akan tetapi hadis di atas cukup bagi orang yang memperhatikan dan berhati-hati.

Hadis-Hadis
Syahid Dastghib mengatakan: “Kehadiran kekhusyuan hati dalam shalat adalah roh shalat yang sesungguhnya, merupakan sebab taqorrub ilalloh (kedekatan pada Allah) bagi orang bertaqwa, mi’raj nya orang beriman dan perbuatan terbaik”. Ahlulbait a.s selalu mendengungkan pentingnya kehadiran hati dalam shalat, silahkan merujuk pada kitab Safinah al-Bihar jilid dua halaman empatpuluh lima.

Supaya kita lebih akrab dengan hadis ahlulbait cobalah kita memperhatikan riwayat berikut ini. Diriwayatkan dari Abu Ja’far (Imam Baqir) a.s beliau bersabda, “Sesungguhnya pertama yang dihisab (dihitung di hari kiamat) dari seorang hamba adalah shalat, maka jika shalatnya diterima niscaya semua amalnya selain shalatpun diterima, sesungguhnya apabila shalat terangkat pada waktunya maka akan kembali pada pelakunya dalam kaadaan putih bersinar dan berkata(shalat tsb): kamu telah menjagaku maka Allah menjagamu, dan apabila terangkat bukan pada waktunya, atau tanpa batas-batasnya maka akan kembali pada pelakunya dalam kaadaan hitam gelap dan berkata: kamu menghilangkanku maka Allah menghilangkanmu”.

Syahid Tsani mengatakan banyak sekali hadis Rasulullah mengenai kandungan diatas (dengan sedikit perbedaan kata) seperti halnya dalam kitab al-Faqih 1/134, al-Wasail dalam bab kitabu as-Shalah 248, 249, 259, al-Tahdzib 2/239 dll. Ketahuilah bahwa dari hadis-hadis ini dapat dimengerti ketergatungan diterimanya shalat pada konsentrasi hati terhadap shalat dan berpaling dari selain Allah. Dan diterimanya shalat adalah sebab diterimanya semua amal. Oleh karenanya perhatian terhadap hal ini sangatlah penting, sebaliknya kelalaian akan hal tersebut adalah kerugian besar dan kemerosotan dahsyat dan kehinaan.

Berikut ini berapa hadis lagi berhubungan dengan pentingnya kehadiran hati. Kafi disnadkan pada Abi Ja’far dan Abi Abdillah a.s, bersabda, “Sesungguhnya dari shalatmu hanya sebatas dimana kamu konsentrasi didalamnyalah yang kamu dapatkan, apabila dia meragukan semua shalatnya atau melalaikan adab-adabnya maka shalat itu akan dilipat dan ditamparkan pada wajah pelakunya” (Furu’ al-Kafi 3/ 363). Dan dari Abi Abdillah a.s bersabda, “Adalah satu hal yang sangat dicintai oleh seorang mu’min dari kalian apabila dia melaksanakan shalat wajib hendaknya dia menghadap kepada Allah dan hatinya tidak disibukkan oleh perkara duniawi, maka tidak satu hambapun yang menghadap Allah di dalam shalatnya melainkan Allah menghadapkan wajah-Nya kepadanya, dan menghadapkan semua hati-hati orang beriman kepadanya dengan cinta setelah Cinta-Nya kepadanya”

Derajat-derajat Kehadiran Hati

Dalam telaah kitab akhlaq dan irfan kita dapatkan keterkaitan sempurna dan kurangnya, kemudian bersinar dan keruhnya segala sesuatu dengan suroh nau’iyah (bentuk macam) terakhirnya. Dan tolok ukur kesempurnaan dan kekurangan serta kebahagiaan dan kesengsaraan manusia bergantung pada sempurna dan tidaknya jiwa berakalnya yang merupakan tiupan Ilahi. Begitupula semua ibadah khususnya shalat, sebagai sususnan qudsy (suci) dari tangan Yang agung dan indah, sangat terkait dengan roh gaibnya yang dapat disaksikan oleh jiwa berakal manusia atau hati. Contohnya dimensi batiniyah dan cahaya bentuk perbuatan Ahlulbait adalah yang digambarkan dalam ayat suci al-quran: “Sesungguhnya kami memberi kalian hanya karena Allah tanpa kita inginkan dari kalian balasan ataupun terima kasih”.

Setelah kita ketahui bersama nilai ibadah khususnya shalat bergantung pada kehadiran hati manusia, tentunya kita harus mengetahui tangga kehadiran tersebut sehingga kita dapat melewatinya dengan baik.

Mirza Jawad maliki Tabrizi menjelaskan gerakan manusia terbagi pada lima macam: pertama, yang kosong dari tujuan. Kedua, yang tujuannya tidak sesuai dengan yang dituju. Ketiga, yang bertujuan global dan sesuai. Keempat, yang tujuannya rinci apabila dinisbatkan pada perbuatannya tapi global jika dinisbatkan pada maknanya. Kelima, yang bertujuan rinci baik dalam perbuatan maupun maknanya.

Susunan pembagian ini sangatlah umum, mencakup ibadah dan selain ibadah, padahal kita sekarang sedang membahas ibadah saja, oleh karena itu mari kita mengutip penjelasan beliau yang lain. Dia menyebutkan lima tahapan bagi kehadiran hati: pertama, hati terfokus pada salah satu sisi shalat. Kedua, manusia sibuk dengan pengucapan yang benar. Ketiga, konsentrasi pada pelaksanaan yang benar. Keempat, konsentrasi pada makna dari perbuatan dan ucpan dalam shalat. Kelima, hati setiap orang shalat selalu konsentrasi pada disetiap perbuatan dari shalat dan setiap ucpan dari shalat disaat masing-masing di tambahkan dengan perhatian pada Allah swt, dan inilah tahapan tertinggi.

Susunan ini tidak begitu menarik, karena empat bagian pertama bisa digabungkan dengan benar dalam satu tahapan yaitu kehadiran hati pada ibadah. Sebetulnya yang harus disoroti lebih rinci adalah yang kelima, dan perincian ini hanya dapat ditemukan di dalam kitabnya Imam Khumaini. Kendatipun perincian ini bisa didapatkan dari penjelasan ulama sebelumnya tapi tanpa susunan yang logis.

Beliau berkata: dari hadis “Sembahlah Allah seakan-akan kamu melihatnya, dan jika kamu tidak melihatnya sesungguhnya Dia melihatmu”, bisa disimpulkan dua tahapan kehadiran hati. Pertama, salik (pejalan) menyaksikan keagungan dan keindahan serta tenggelam dalam manivestasi Hadrat Yang tercinta (Allah), dan hatinya hanya konsentrasi pada-Nya. Kedua, pejalan melihat dirinya hadir dihadapan Allah yang kemudian menjaga adab hadir di hadapan-Nya.

Dalam kitabnya yang lain, Beliau merinci penjelasannya, “Harus diketahui bahwa semua ibadah tanpa terkecuali adalah memuji maqom muqoddas rububiyat (posisi suci pengaturan)-Allah-, yang kesemuanya kembali pada pujian terhadap dzat Allah, nama dan sifatnya, pujian terhadap manivestasinya, baik berupa pensucian, pengkudusan, atau pujaan, dan tiada ibadah dari sisi rahasia dan hakekat kosong dari satu martabat pujian Yang disembah”. Oleh karena itu, martabat pertama kehadiran hati dalam ibadah adalah kehadiran hati dalam ibadah secara global, dan ini mudah bagi setiap orang. Yaitu hendaknya manusia memahamkan hatinya bahwa ibadah adalah pintu pemujaan Yang disembah. Dari awal sampai akhir secara global menghadirkan dan mengkonsentrasikan hati pada satu makna bahwa sedang sibuk dengan pemujaan Yang disembah.

Kendatipun dia tidak mengetahui pujaan apa yang dia lakukan, persis seperti perbuatan anak kecil yang menyanyikan pujian untuk seseorang, akan tetapi tidak mengetahui pujian apa yang dia lontarkan.

Martabat kedua adalah kehadiran hati dalam ibadah secara terperinci, yaitu hendaknya hati yang beribadah hadir disemua ibadahnya dan mengetahui dengan apa dia menyifati Haq (Allah) dan bagaimana dia bermunajat. Dan martabat ini memiliki banyak tahapan sesuai dengan beragamnya maqom (posisi) hati dan ma’rifat yang beribadah.

Berikut ini kami menjelaskannya secara umum. Pertama, kelompok yang dari shalat dan semua ibadahnya hanya memahami gambar, kulit dan bentuk mulki (lahiriah) nya. Akan tetapi mereka memahami makna-makna biasa (urfiah) dari dzikir, do’a dan bacaan mereka. Dan kehadiran hati mereka hanyalah dzikir yang menghadirkan makna-makna tersebut melalui bacaan. Dan hati mereka hadir di hadapan Allah dengan munajat. Kelompok ini tidak boleh merasa bangga dengan apa yang ada pada dirinya sehingga dia terikat dengan makna-makna biasa tersebut, karena hal itu salah satu tugas dan keberhasilan besarnya setan.

Kedua, kelompok yang memahami hakekat ibadah, dzikir dan bacaannya dengan akal pemikiran seperti pengetahuan bagaimana kembalinya semua pujian terhadap Allah dengan argumentasi rasional. Hendaknya hati mereka hadir ketika menyebutkan hakekat dan pujian tersebut, memahami apa yang mereka katakan dan bagaimana memuja serta memuji Allah.

Ketiga, mereka yang menjajahi hakekat dengan kaki pemikiran dan rasio, menyampaikannya dengan pena rasio ke papan hati, dan hati merekapun mengenal dan mengimani hakekat. Mereka telah sampai pada iman, ketenangan, dan kesempurnaan taqwa baik dalam amal ataupun hati, mereka adalah pemilik hati.

Keempat, disamping mereka telah menyampaikan hakekat pada tahapan hati, telah sampai maqom kesempurnaan dan ketenangan, mencapai martabat penyingkapan dan kesaksian melalui usaha dan olahraga (riyadloh), mereka mendapatkan hakekat dengan mata malakuti dan pandangan ilahi secara kesaksian hudluri dan gaib. Oleh karena itu para pejalan ini juga memiliki beberapa martabat yang perinciannya keluar dari tampungan lembaran-lembaran ini, secara global kami menyebutkan martabat Ahlul kasyf wa syuhud (ahli penyingkapan dan kesaksian) yakni kehadiran hati didalam Yang disembah (kehadiran hati di dalam manivestasi perbuatan Tuhan).

0 komentar:

Posting Komentar