Laman

Emas Muslihudin Phon : 082118164111
Tampilkan postingan dengan label Keagamaan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Keagamaan. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 21 Agustus 2010

 Tanggung Jawab Seorang Pemimpin

Oleh : Dr. KH. Zakky Mubarak, MA

Diberitakan dari Abdullah bin Umar, ia berkata, “Aku mendengar Rasulullah s.a.w. bersabda, “Kamu semua adalah pemelihara (pemimpin) dan bertanggung jawab kepada pemeliharaannya. Seorang imam adalah pemelihara, ia bertanggung jawab kepada pemeliharaannya. Seorang suami adalah pemelihara keluarganya, ia bertanggung jawab atas apa yang dipimpinnya. Seorang istri adalah pemelihara di dalam rumah suaminya, ia bertanggung jawab kepada pemeliharaannya. Seorang pembantu adalah pemelihara harta majikannya, ia bertanggung jawab kepada pemeliharaannya.” Perawi berkata, “Aku menyangka bahwa Rasulullah sungguh bersabda, “Seorang lelaki (anak) adalah pemelihara harta ayahnya, ia bertanggung jawab kepada pemeliharaannya. Kamu semua adalah pemelihara dan bertanggung jawab kepada pemeliharaannya.” (HR. Mutafaq’alaih, al-Bukhari: 844 dan Muslim: 3408)


1. Definisi Pemimpin

Pemimpin atau pemelihara yang dalam hadis di atas disebut dengan kata “ra’in” adalah pemelihara yang selalu berusaha untuk menciptakan kemaslahatan bagi setiap anggota yang berada dalam pemeliharaannya. Ia adalah orang yang diberikan kepercayaan untuk mengurus dan memelihara segala sesuatu yang menjadi beban atau tugas yang harus dilaksanakannya (ra’iyyah).

Dari definisi di atas, tidak ada seorang pun yang tidak menjadi ra’in (pemimpin), meskipun ranah ra’iyyah yang diembannya berbeda-beda. Masing-masing dari mereka memiliki tanggung jawab untuk berbuat baik dan menciptakan kemaslahatan bagi semua yang berada di bawah pemeliharaannya. Kepala negara bertanggung jawab kepada rakyatnya, kepala sekolah bertanggung jawab kepada staff guru dan murid-muridnya, kepala keluarga bertanggung jawab kepada istri dan anak-anaknya, dan lain sebagainya. Bahkan seorang anak, tukang, pedagang, petani, atau pelayan sekalipun, mereka bertanggung jawab kepada wilayah pemeliharaannya (ra’iyyah). Apabila seorang ra’in tersebut dapat mengemban dan menjalankan fungsinya untuk menjaga dan memelihara ra’iyyahnya, maka ia benar-benar telah menjalankan amanat Allah sebagai khalifah di muka bumi ini. Kata ra’iyyah (yang dipimpin) kemudian diambil menjadi kosa-kata dalam Bahasa Indonesia dengan arti rakyat. Maka tersebutlah ada pemimpin (ra’in) dan ada rakyat (ra’iyyah).
2. Tugas Seorang Pemimpin

Seorang pemimpin, baik sebagai kepala negara, raja, gubernur, walikota, bupati, camat, kepala desa, maupun yang lainnya, didaulat penuh oleh rakyat untuk mengemban amanah sebaik-baiknya. Oleh karena itu, seorang pemimpin harus senantiasa menegakkan supremasi hukum dengan adil dan bijaksana, memberikan hak-hak rakyat, menjamin kemerdekaan berpendapat, berserikat, menjalankan ibadah menurut keyakinan mereka masing-masing. Mereka juga harus mendukung setiap langkah yang positif untuk membangun bangsa yang beradab, adil, dan sejahtera.

Selain itu, ia juga harus memperhatikan tuntutan nurani rakyat, menjaga keamanan dan kenyamanan mereka dari segala gangguan dan ancaman, baik yang berasal dari dalam maupun dari luar wilayah kekuasaannya. Dengan kekuatan dan kekuasaan yang dimilikinya, ia harus mempertanggung-jawabkan semuanya itu di hadapan Allah s.w.t.. Demikian beratnya tugas seorang pemimpin, Umar bin Abdul Aziz, salah seorang Khalifah Dinasta Umayah yanga arif dan bijaksana, ketika didaulat sebagai Khalifah, kalimat yang pertama kali ia katakan adalah “inna lillahi wa inna ilaihi raji’un”, kalimat istirja’ yang diucapkan ketika menerima suatu musibah. Bagi dirinya, jabatan pemimpin (khalifah) bukan suatu anugerah yang harus dibanggakan, melainkan amanah rakyat yang harus ia tunaikan dengan jujur, adil, dan bijaksana. Tepat sekali apa yang dikatakan seorang ahli politik nasional, Andi Mallarangeng, “The state that never sleep” (negara yang tak pernah tidur) untuk kinerja pemerintah yang tak mengenal lelah bekerja keras demi merealisasikan kemaslahatan umat, mewujudkan masyarakat yang adil, makmur, aman, dan sejahtera.

3. Pemimpin yang Dzalim

Kesan pemimpin adalah sosok yang kharismatik bagi rakyatnya, ditangannyalah, segala kebijakan menyangkut nasib rakyat ditentukan. Pemimpin yang adil tentu akan membawa rakyatnya kepada kesejahteraan. Sedangkan pemimpin yang dzalim (otoriter) akan membawa mereka kepada kesengsaraan yang berkepanjangan. Banyak negara yang sejahtera karena dipimpin oleh presiden yang adil, tetapi kemudian runtuh dan sengsara karena dilimpahkan kepada generasi penerusnya yang dzalim. Oleh karena itu, tepat sekali apa yang dicantumkan dalam sebuah kaidah fiqh: “Kebijakan seorang imam harus berdasarkan pada kemaslahatan masyarakatnya.” Dengan demikian, barometer kebijakan seorang pemimpin, bukanlah nafsu kekuasaan yang bersifat politis, melainkan amanat rakyat yang diembankan kepadanya. Apabila seorang pemimpin tidak memperhatikan nasib rakyatnya, bahkan ia menzalimi mereka dengan melakukan tindakan-tindakan yang merugikan kepentingan bersama, maka ia termasuk pemimpin yang tidak jujur.

Ketidakjujuran seorang pemimpin terlihat dari perilakunya yang lalai dalam menunaikan hak-hak rakyatnya. Ia sering memanipulasi kepentingan mereka demi kepentingannya pribadi. Bahkan ia tak segan memeras keringat rakyat dan memakan harta milik mereka dalam bentuk korupsi dan kolusi serta penyalahgunaan kekuasaan. Pemimpin seperti ini akan menanggung dosa umat dan bangsa secara keseluruhan. Di dunia, ia akan dijerat oleh hukum negara atas tindakannya yang berbuat aniaya semasa berkuasa. Dan di akhirat nanti, ia akan mendapat siksa yang menyakitkan. Dalam hal ini, Sahabat Ma’qil bin Yasar al-Muzanni menjelang wafatnya menyampaikan sebuah hadis sebagai berikut:

Artinya : “Aku mendengar Rasulullah s.a.w. bersabda, “Tidak ada seorang hamba yang diamanatkan oleh Allah untuk mengurusi rakyatnya, kemudian ia meninggal dalam keadaan sedang menipu rakyatnya, kecuali Allah mengharamkan sorga baginya.” (HR. al-Bukhari: 6618 dan Muslim: 203)

Lebih jauh lagi, seorang pemimpin hendaknya selalu memberikan kemudahan bagi masyarakat yang dipimpinnya, bukan malah mempersulitnya. Oleh karena itu, pantas sekali jika pemimpin yang mempermudah urusan umatnya di dunia, maka Allah akan mempermudah urusannya nanti di akhirat. Tetapi, jika ia mempersulit atau menunda-nunda amanah yang diembannya, sehingga menimbulkan kesengsaraan dan penderitaan rakyat yang berkepanjangan, maka Allah s.w.t. akan mempersulit kebutuhannya nanti di akhirat. Hal ini sebagaimana disebutkan dalam sebuah hadis:

Artinya : Diberitakan dari Aisyah ra, Rasulullah s.a.w. bersabda, “Ya Allah, siapa yang sedikit saja menguasai urusan umatku, kemudian ia mempersulit mereka, maka sulitkanlah ia. Dan siapa yang sedikit saja mengurusi umatku, kemudian ia mengasihi mereka, maka kasihanilah ia.” (HR. Muslim: 3407)

Hadis ini ditegaskan juga oleh sebuah riwayat dari Abu Maryam al-Azdiy, Rasulullah s.a.w. bersabda:

Artinya : “Siapa yang telah dikuasakan oleh Allah untuk memegang sebuah urusan kaum muslimin, kemudian ia menghalangi kepentingan dan kebutuhan mereka, maka Allah akan menghalangi kepentingan dan kebutuhannya..” (HR. Abu Dawud: 2559)

Abu Awwanah dalam Shahih-nya menegaskan bahwa pemimpin demikian itu akan memperoleh bahlatullah, yakni laknat Allah (Fatchurrahman:1966:132).

4. Kewajiban Terhadap Keluarga

Seorang suami sebagai kepala rumah tangga adalah pemimpin bagi keluarganya. Ia diberikan amanah untuk menjaga dan memelihara orang-orang yang berada dalam pengawasannya. Ia wajib mendidik, mengajar, dan mengarahkan istri, anak-anak, hatta pelayannya sekalipun, untuk menjadi manusia yang berpendidikan dan berakhlak mulia. Jika ia tidak mampu menanganinya sendiri, maka agama memperbolehkannya untuk mencari orang yang berkompeten untuk kepentingan itu. Oleh karena itu, sudah menjadi kewajiban suami, memberikan nafkah kepada sanak keluarganya, mendidiknya, dan mengarahkannya kepada jalan yang baik agar senantiasa melakukan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya. Hal ini sebagaimana disebutkan dalam firman Allah:

Artinya : “Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.....” (QS. al-Tahrim, 66:6)

Seorang suami akan dimintai pertanggungjawabannya nanti di akhirat kelak. Sebagai kepala keluarga, ia akan ditanya, apakah istrinya telah diperlakukan dengan baik, diberikan hak-haknya dengan sempurna, dan apakah ia tidak menyeleweng ketika istrinya sedang tidak ada. Begitu pula tentang anak-anaknya, ia akan ditanya tentang pendidikan agama mereka, dan bagaimana ia membelanjakan harta untuk anak selama masih dalam pengawasannya. Dengan demikian, tidak ada celah bagi seorang suami untuk berbuat dzalim terhadap sanak keluarganya, sebab semuanya akan dimintai pertanggung-jawabannya. Kewajiban dalam mengatur keluarga tidak hanya monopoli seorang suami. Seorang istri diberikan peran untuk memberikan pendidikan kepada anak-anaknya di rumah. Sebab pepatah Arab mengatakan, “al-Ummu Hiya al-Maddrasat al-Ula” (Ibu adalah sekolah yang pertama). Di samping itu, ia juga harus bijaksana dalam mengatur rumah tangga, menjaga rahasia keluarga, dan menjadi kawan hidup yang taat serta insyaf akan kewajibannya. Istri yang seperti ini adalah istri yang diridhai oleh Allah s.w.t. Ia akan mencium semerbak aroma sorga di akhirat kelak.

Sebaliknya, apabila seorang istri banyak menuntut hak kepada suaminya, sementara kewajibannya dilalaikan, maka ia adalah tipe istri yang dilaknat oleh Allah s.w.t. dan dicampakkan ke dalam api neraka yang menyala-nyala. Adapun anak yang menjadi buah hati mereka berdua, ia bertanggung jawab untuk menjaga harta kedua orang tuanya dengan baik dan efesien. Ia tidak menghambur-hamburkannya untuk kegiatan-kegiatan yang tidak berguna dan foya-foya. Harta yang diamanahkan orang tua kepadanya harus dimanfaatkan untuk hal-hal yang baik, tidak diselewengkan, digelapkan, atau dirusakkan. Seorang anak yang baik adalah anak yang berbakti dan berbuat baik kepada orang tuanya, bersikap jujur dan tidak ada dusta dalam perilakunya. Ia menjaga harta orang tuanya seperti hartanya sendiri yang harus dipelihara dengan sebaik-baiknya.

5. Kewajiban Buruh Terhadap Harta Majikannya

Buruh, pekerja, pembantu, atau pelayan yang bekerja di rumah atau di kantor majikannya, bertanggung jawab untuk memelihara harta benda dan segala inventaris milik majikannya. Ia hendaknya mengembangkan harta inventaris itu sesuai dengan kemampuannya, tanpa merusak atau menghilangkannya.

Seorang buruh diberi upah oleh majikannya untuk bekerja keras merawat, menjaga, dan memelihara rumah atau kantor dan segala isinya. Tugas ini merupakan amanah yang harus ia tunaikan. Berbagai fasilitas dan inventaris milik majikannya tidak digunakan untuk keperluan yang tidak ada sangkut pautnya dengan urusan kantor.

Jika demikian, masing-masing dari kita diperintahkan untuk mempertanggung jawabkan semua yang diamanahkan kepada kita, berupa harta benda, keluarga, kesehatan, dan jabatan. Dalam konteks ini, apa pun yang kita miliki dan bahkan diri kita adalah amanah kehidupan dari Allah. kita harus menjaga dan menjalankan amanah tersebut sesuai dengan apa yang perintahkan Allah dan Rasul-Nya, sebab semuanya itu akan dimintai pertanggungjawabannya di hadapan Allah.

Karenanya, janganlah kita terlena dengan segala apa yang kita miliki, terutama jabatan (kedudukan) dan kekayaan. Sebab semuanya itu adalah cobaan dan amanat yang harus dipergunakan dengan baik dan benar. Allah s.w.t. berfirman,

Artinya : “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul (Muhammad), dan janganlah kamu mengkhianati amanat-amanat yang dipercayakan kepadamu, sedangkan kamu mengetahui.” (QS. al-Anfal, 8:27).

6. Kesimpulan

1. Seluruh manusia menjadi pemimpin sekaligus menjadi pemelihara dan pengurus terhadap apa yang menjadi tanggung jawabnya.
2. Pemimpin atau pengurus harus berbuat baik kepada apa yang dipimpinnya atau diurusinya, karena semuanya itu akan diminta pertanggungjawabnya di hadapan Allah.
3. Pemimpin atau penguasa adalah pemelihara umat yang harus dengan jujur melaksanakan amanah dan tuntutan rakyatnya untuk menciptakan kesejahteraan di segala bidang. Ia akan mempertanggungjawabkan semua kebijakan yang ditempuhnya sewaktu di dunia menyangkut persoalan umat. Apabila adil, jujur, dan benar, maka Allah merahmatinya, tetapi bila dzalim dan menyelewengkan kekuasaannya, maka Allah akan melaknatnya.

Lajeng......

Sabtu, 19 Juni 2010

 Penghuni Neraka Serta Makanan Dan Minumannya

Rasulullah Saw. bersabda: "Ahli neraka itu hangus wajahnya, gelap penglihatannya dan hilang akalnya. Kepala mereka bentuknya seperti kubah, badan-badan mereka seperti guntung, matanya melotot, tinggi mereka seperti gunung dan rambut mereka berdiri seperti bambu. Tidak ada bagi mereka suatu kematian, dimana mereka bisa mati dan tiada pula hidup, dimana mereka bisa hidup. Setiap penghuni neraka mempunyai 70 kulit, dari kulit kulit yang satu ke kulit yang lain terdapat 7 lapis dari api neraka, perut mereka berisi ulat-ulat dari api neraka yang mereka dengar suaranya seperti suara-suara hewan buas. Rantai dan belenggu dikalungkan pada mereka dan gada dipukulkan pada tubuh mereka, kemudian mereka diseret pada wajahnya."


Rasulullah Saw.bersabda: "Saat-saat yang menyedihkan bagi penghuni neraka adalah sewaktu mereka merintih-rintih: "Wahai Tuhan kami, siksa telah meliputi kami." Mereka terpenjara didalam neraka, terbelenggu dengan belenggu neraka. Kalau mereka diam tidaklah dikasihi, mereka sabarpun tidak selamat. Jika mereka merintih tidaklah memperoleh perhatian. Mereka merintih-rintih dengan kerusakan, celaka serta hina. Mereka digandeng bersama-sama didalam penjara yang kekal serta diliputi rasa penyesalan. Mereka disiksa lama sekali, tempat masuk mereka sempit, nanah mereka mengalir terus, aurat mereka terbuka dan warna mereka berubah."

Orang-orang yang celaka itu berkata: "Ya Tuhan kami, kesesatan telah mengalahkan kepada kami, dan kami ini adalah termasuk kaum yang sesat. Ya Tuhan kami, hilangkanlah dari kami siksa ini, sesungguhnya kami termasuk orang-orang yang beriman."

Rasulullah Saw. bersabda: "Saat-saat yang paling menyedihkan bagi ahli neraka adalah disaat Allah menciptakan gunung bagi mereka, yang dinamakan "Gunung Shu'ud" Mereka naik pada tanjakan gunung tersebut dengan (menyeret) wajah mereka selama 1.000 tahun. Sehingga saat mereka bisa menaiki gunung itu, gunung itu melemparkan mereka kedasar neraka Jahanam (akhirnya) mereka semua menyesal menaikinya."

Rasulullah Saw. bersabda: "Saat-saat yang sangat menyedihkan bagi ahli neraka adalah ketika mereka meminta hujan, maka datanglah mendung yang hitam diatas mereka, lalu mereka berkata: "Hendak turun hujan dari sisi Allah Yang Maha Penyayang." Maka turunlah bebatuan neraka kepada mereka yang langsung menimpa kepala mereka, kemudian batu itu keluar dari duburnya. Lalu mereka meminta kepada Allah Swt. selama 1.000 tahun agar diturunkan hujan kepada mereka, lalu tampaklah awan hitam diatas mereka, maka berkatalah mereka: "Inilah awan hujan." Ternyata yang menghujani mereka adalah ular-ular yang besarnya bagai leher unta. Dan barang siapa yang digigit ular itu dengan sekali gigitan, maka tidak akan hilang sakit akibat gigitan tersebut selama 1.000 tahun."
Allah Swt. berfirman yang artinya: "Kami tambahkan kepada mereka dengan siksa diatas suatu siksa yang akibat dari mereka selalu berbuat kerusakan." (Qs. An-Nahl: 88).

Rasulullah Saw. berbada: "Saat-saat yang sangat menyedihkan bagi ahli neraka adalah ketika mereka memanggil Malaikat Malik as. selama 70.000 tahun dan mereka tidak mendapat jawaban. Maka mereka berkata: "Ya Tuhan kami, sesungguhnya Malaikat Malik tidak mau menjawab kepada kami." Kemudian Allah Swt. berfirman: "Wahai Malik, jawablah ahli neraka ini." Lalu Malaikat Malik berkata: "Apakah yang kalian katakan wahai ahli neraka, orang-orang yang dimurkai Allah." Maka mereka menjawab: "Wahai Malik, berilah kami minum agar kami merasa puas olehnya, karena api-api telah membakar daging-daging kami, tulang-tulang kami, kulit-kulit kami, serta telah merobek-robek tulang kami dan telah memotong-motong hati kami." Lalu Malaikat Malik memberikan kepada mereka minuman air yang mendidih. Pada saat minuman itu mereka pegang, maka rontoklah jari-jari mereka. Saat air itu telah sampai kewajah mereka, maka berjatuhanlah mata dan pipi mereka. Dan disaat air itu masuk keperut mereka, maka, terputuslah usus-usus dan hati mereka."

Rasulullah Saw. bersabda: "Saat-saat yang menyedihkan bagi ahli neraka adalah ketika mereka menginginkan makanan, maka didatangkanlah kepada mereka makanan kayu Zaqqum. Ketika mereka memakannya maka mendidihlah apa yang ada didalam perut mereka dan otak mereka, serta gusi-gusi mereka. Kemudian keluarlah dari mulut mereka api yang menjilat-jilat dan rontoklah anggota tubuh mereka diantara telapak kakinya."

Rasulullah Saw. bersabda: "Saat-saat yang sangat menyedihkan bagi ahli neraka adalah ketika dipakaikan kepada mereka pakaian dari cairan timah dan tembaga. Ketika pakaian itu dipakaikan kepada mereka, maka terkupaslah kulit mereka. Orang-orang yang celaka itu berada dalam neraka dalam keadaan buta, bisu, dan tuli. Maka semua orang yang lapar sudah barang tentu menginginkan makanan kecuali ahli neraka, semua orang yang telanjang pasti membutuhkan pakaian kecuali ahli neraka, dan semua mayit itu menghendaki suatu kehidupan kecuali ahli neraka, karena sesungguhnya mereka itu selalu menghendaki kematian (tetapi mereka tidak dapat mati).

Lajeng......

 Rusaknya Segala Sesuatu Atas Perintah Allah SWT

Allah Swt. memerintahkan malaikat Maut agar merusak laut, sebagaimana firmannya: "Tiap-tiap sesuatu pasti binasa, kecuali wajah (Dzat Allah)." (Qs. Al-Qashash: 88).

Maka datanglah malaikat Maut kelautan dan berkata: "Sungguh telah sampai (habis) waktumu." Lautpun berkat: "Izinkanlah aku meratapi atas diriku." Laut berkata lagi: "Dimana gelombang-gelombangku, dimana keajaibanku, dan sungguh telah datang perintah Allah." Maka menjeritlah laut dihadapan malaikat Maut dengan jeritan yang membuat airnya tidak ada.



Kemudian malaikat Maut mendatangi gunung dan berkata: "Sungguh telah habis waktumu." Gunungpun berkata: "Izinkanlah aku meratapi diriku." Gunung berkata: "Dimana ketinggianku, dimana kekuatanku, dan sungguh telah datang perintah Allah." Maka menjeritlah dia dengan jeritan yang menghancurkannya.

Kemudian malaikat Maut mendatangi bumi dan berkata: "Sungguh telah sampai waktumu." Bumipun berkata: "Izinkanlah aku meratapi diriku." Bumi berkata lagi: "Dimana kerajaan-kerajaanku, pohon-pohonku sungai-sungaiku dan macam-macam tumbuhanku." Maka menjeritlah bumi didepan malaikat Maut dengan jeritan yang merontokkan dinding-dindingnya dan memperdalam sumber mata air.

Kemudian malaikat Maut naik ke langit, maka menjeritlah dia sehingga terjadi gerhana matahari dan bulan, dan rontoklah bintang-bintang. Lalu Allah Swt. berfirman: "Hai malaikat Maut, apa yang masih tersisa dari makhluk-Ku ?" Malaikat Maut berkata: "Tuhanku, Engkaulah Yang Maha Hidup, Dzat yang tidak mati, tersisa Jibril, Mikail, Israfil, malaikat penyangga Arasy dan saya hamba-Mu yang lemah."

Allah berfirman: "Cabutlah ruh-ruh mereka." Maka dicabutlah ruh-ruh mereka. lalu Allah Swt. berfirman: "Hai malaikat Maut, apakah engkau tidak mendengar firman-Ku? Sesungguhnya makhluk yang bernyawa pasti akan merasakan maut, dan engkau adalah salah seorang dari makhluk-Ku, maka matilah engkau." Maka matilah malaikat Maut.

Dalam hadits yang lain dikatakan: Kemudian Allah Swt. memerintahkan malaikat Maut untuk mencabut ruhnya sendiri. Malaikat Maut lalu mendatangi tempat yang berada diantara surga dan neraka dan memandang ke langit, maka dicabutlah nyawanya, dia menjerit sekali dengan jeritan yang jika semua makhluk yang hidup mendengarnya maka matilah mereka sebab mendengar jeritan malaikat Maut tersebut. Lalu dia berkata: "Seandainya aku tahu bahwa pisahnya nyawa ini sangat sedih, niscaya aku cabut ruh-ruh orang mukmin dengan belas kasih (pelan-pelan)." Maka matilah malaikat Maut sehingga tidak tersisa seorang makhlukpun.
Dalam hadits yang lain, Allah Swt. berfirman: "Pergilah engkau dan matilah diantara surga dan neraka." Maka matilah malaikat Maut disitu hingga tidak tersisa seorangpun makhluk kecuali Allah dan tinggallah dunia yang telah rusak sesuai kehendak Allah Swt.

Lajeng......

Jumat, 05 Maret 2010

 Kehadiran Hati Dalam Shalat

“Kehadiran kekhusyuan hati dalam shalat adalah roh shalat yang sesungguhnya, merupakan sebab taqorrub ilallah (kedekatan pada Allah) bagi orang bertaqwa, mi’raj nya orang beriman dan perbuatan terbaik”

Ibadah, dan shalat pada khususnya merupakan susunan suci ilahi yang tersedia dari tangan Yang maha besar. Semua itu modal kehidupan kita di akhirat nanti, kesempurnaan dan kekurangan, terang dan gelapnya tergantung pada roh gaib dan hembusan ilahi yang dapat disaksikan oleh hati nurani. Betapa banyak orang menunaikan ibadah shalat akan tetapi, karena tidak adanya roh shalat, dia tidak meraih keuntungan apapun, bahkan shalat tersebut diikat dan dilemparkan ke muka pelakunya.


Roh dan otak shalat adalah kehadiran hati, tanpanya shalat akan ditolak oleh Yang maha suci, dan tidak berbekas kecuali kesengsaraan dunia-akhirat, di samping itu pula dalam aspek sosial tidak dapat mencegah kekejian dan kemungkaran.

Mengingat pentingnya hal tersebut di atas, berkat inayah Allah dan perhatian Imam Zaman -ajjalallohu farojahus syarif- saya berusaha menuliskan kajian bertemakan Kehadiran Hati Dalam Shalat, dengan harapan semoga Allah dan para Walinya rela akan usaha ini, dan memberiku taufik lebih besar dalam menyebarkan ajaran islam, insyaAllah.

Definisi Kehadiran Hati

Terlebih dahulu kita harus mendefinisikan hati. Syahid Tsani menyebutkan dua arti bagi qolb (hati): pertama adalah daging yang berbentuk sanubari dan -memiliki keriteria-keriteria tersebut di dalam buku kedokteran-. Kedua, naruni rohani ilahi yang juga berhubungan erat dengan sanubari tersebut, naruni ini disebut dengan beragam kata, seperti hati, jiwa, roh, dan insan. Naruni itu tidak lain adalah yang mengetahui, lawan bicara al-Quran, yang diminta dan terkadang dihina al-Quran atau hadis, dialah yang menjalin hubungan special dengan sanubari, dimana mayoritas akal manusia tidak dapat memahaminya.

Pada hakekatnya hubungan itu semacam hubungan sifat dengan benda seperti putih, bahkan sifat dengan yang disifati, atau seperti hubungan pemakai dengan yang dipakai dan yang bertempat dengan tempat dll. Adapun hati yang kita maksud disini adalah arti kedua, dimana Syahid Dastghib mengibaratkannya pada roh atau jiwa metafisik yang harus dibersihkan sehingga berkat tampaknya alam malakut niscaya akan meraih keuntungan lebih besar.

Syahid Dastghib mendefinisikan kehadiran hati dalam shalat adalah sebuah konsentrasi pada ucapan dan gerakan shalat serta pengosongan pikiran dari yang selain shalat. Sebagian ulama mengatakan (definisi lain) hendaknya ketika shalat tidak disibukkan dengan prihal yang melalaikan dari shalat, dan sebatas seseorang konsentrasi pada dhohirnya gerakan dan ucapan shalat, itu cukup dalam terwujudnya kehadiran hati. Sebagian lagi menyebutkan bahwa kehadiran hati adalah pengosongan hati dari selain Allah dan tidak menyetir kuda pemikirannya pada selain itu.

Hanya saja lebih baik apabila kita mendefinisikan kehadiran hati dalam shalat dengan kosongnya hati ketika shalat dari selain Allah atau shalat. Sebab definisi ini mencakup semua martabat kehadiran hati dalam shalat, sedangkan definisi pertama dan kedua tidak mencakup derajat tertinggi kehadiran hati seperti fana dalam dzat Allah. Sebaliknya definisi ketiga yang tidak mencakup martabat dibawah fana’ contohnya, seperti konsentrasi pada gerakan dan ucapan shalat.

Urgensitas Kehadiran Hati

Kepastian surga bagi pemilik hati
Asas dari kehadiran hati dalam beribadah adalah cinta dan takut, apabila keduanya bergabung dalam hati ketahuilah Allah memastikan surga baginya. Perinciannya, setiap kali seseorang sangat menakuti Allah, kemudian sangat mencintainya, pasti terselamatkan dari api neraka, dan tentunya masuk surga. Karena ketika dia takut pada-Nya maka selamanya tidak akan bermaksiat pada-Nya. Tentunya akan selalu mentaati seluruh perintah dan larangannya, hanya saja kendatipun ketaatan ini – walaupun seratus persen- cukup berharga, tapi masih ada ketaatan yang lebih berharga yaitu, ketaatan yang muncul dari cinta kepada-Nya. Tentunya cinta tidak akan tumbuh tanpa pengetahuan sebelumnya. Inilah ketaatan dan ibadah para Wali Allah, bukan terhitung dalam bab takut jahannam atau ingin surga, tapi lebih dari itu semua.

Setelah dimengerti sesungguhnya takut dan cinta melahirkan ketaatan, premis berikutnya adalah, semua ketaatan dan pengabdian pada Allah melahirkan entah masuk ke surga atau lebih tinggi dari itu. Yakni sampai derajat dimana masuk surga bagi mereka bukanlah hal penting, bahkan merekalah yang menentukan dan mengarahkan seseorang kesurga serta memberi syafaat. Dari dua mukaddimah diatas dapat disimpulkan bahwa semua orang yang di dalam hatinya terkumpulkan takut dan cinta niscaya Allah memastikan surga baginya bahkan lebih.

Kehadiran hati adalah rohnya ibadah
Untuk menjelaskan bahwa roh ibadah adalah kehadiran hati sehingga tanpanya apalah arti ibadah yang mati dan tidak memiliki bentuk malakuti. Imam Khumaini berkata, ” Jiwa ibadah, lengkap dan sempurnanya bergantung pada kehadiran hati dan konsentrasinya. Ibadah mati tidak akan diterima Maqom Ahadiyat, tidak menerima ramah dan rahmat-Nya, serta jatuh dari perhitungan. Sebaliknya sebatas kesempurnaan ikhlas dan kehadiran hati, sebagai dua rukun ibadah, roh yang tertiup didalamnya lebih suci, kebahagiaannya lebih sempurna, dan bentuk malakutinya lebih bercahaya”.

Imam Khomaini juga ingin menjelaskan bahwa kehadiran hatilah yang mencegah seseorang dari kekejian dan kemungkaran. Imam menekankan menekankan kehadiran hati merupakan mukaddimah ibadah, dan tanpanya ibadah akan mati, kehadiran hati adalah kunci semua kesempurnaan dan pintu semua kebahagiaan. Dialah otak ibadah yang mencegah dari kekejian dan kemungkaran. Tentunya pencegahan ini tidak berbentuk indrawi, akan tetapi didalam hati seseorang terdapat lentera dan sinar terang sebagai penunjuk dan pencegah.

Diterimanya shalat tergantung pada kehadiran hati
Salah satu bukti urgensitas kehadiran hati adalah ketergantungan penerimaan shalat padanya. Artinya semua ibadah khususnya shalat akan diterima apabila disertai kehadiran hati, sisanya akan diikat dan ditamparkan ke muka pelakunya, dan tidak akan pernah diterima. Hanya saja perlu diketahui bahwa dari sudut pandang taklif dalam fiqih ketika seseorang telah melaksanakan shalat maka pena kewajiban terangkat darinya kendatipun tidak disertai kehadiran hati.

Syahid Tsani berkata, Allah swt berfirman: “fawailun lil mushollin alldzina hum ‘an sholatihim sahun”, celakalah para pelaku shalat yang lupa akan shalatnya. Allah mencela mereka bukan karena mereka meninggalkan shalat melainkan karena kelalaian mereka terhadap shalat. Artinya Allah mencela mereka karena kelalaian dari rohnya shalat, bukan peninggalannya karena ini melawan syariat, dan dari hinaan inilah kita memahami penolakan shalat tanpa kehadiran hati.

Syahid Dastghib menjelaskan bahwa akal sehat, ayat, dan riwayat menegaskan bahwasanya syarat pengaruh shalat dalam qurbatan ilallah (kedekatan pada Allah) adalah kehadiran hati, memenuhi syarat-syarat, dan menghindari rintangan-rintangan. Dan tidak berpengaruh dalam kedekatan tersebut artinya penolakan. Sekali lagi saya tekankan bahwa tidak diterima bukan berarti tetap adanya pena taklif.

Tanpanya berdampak keluar dari wilayah dan syafaat
Ada beberapa riwayat yang menegaskan akan mengeluarkan orang-orang yang meremehkan shalat dari wilayah dan syafaat kenabian dan kema’suman. Karena kemungkinan bahkan kepastian tergolongnya orang yang tidak mementingkan roh shalat dalam peremeh shalat, maka saya meletakkannya dalam barisan bukti urgensitas kehadiran hati. Imam Khomaini menjelaskan bahwa seorang yang tidak mempunyai peluangan waktu sebagai mukaddimah peluangan hati dan keduanya pendiri kehadiran hati, maka dia telah meremehkan shalat. Kalaupun proposisi ini tidak harus (dloruri) tapi pasti(jazmi), maka bila positif maka pada kenyataannya dia telah keluar dari wilayah para ma’sum dan tidak meraih syafaat mereka.

Supaya anda dapat merasakan pentingnya hal ini, marilah kita perhatikan hadis-hadis berikut. Dari Muahammad bin Ya’qub dengan pensanadan pada Abi Ja’far (Imam Muahammad Baqir) a.s bersabda: “Janganlah kamu meremehkan shalatmu sesungguhnya Rasulullah -saww- bersabda” orang yang meremehkan shalatnya tidak tergolong dariku, bukanlah dariku orang yang minum arak, demi Allah dia tidak akan datang padaku di haudl”.

Dengan pensanadan dia dari Abi Basir berkata: Abul Hasan Al-awwal (Imam Ridlo?) a.s bersabda: “Ketika ayahku akan wafat dia berkata padaku: wahai anakku, orang yang meremehkan shalatnya tidak akan mendapatkan syafaat kita” (Furu’ al-Kafi 3, 269/270). Hadis semacam ini sangat banyak, akan tetapi hadis di atas cukup bagi orang yang memperhatikan dan berhati-hati.

Hadis-Hadis
Syahid Dastghib mengatakan: “Kehadiran kekhusyuan hati dalam shalat adalah roh shalat yang sesungguhnya, merupakan sebab taqorrub ilalloh (kedekatan pada Allah) bagi orang bertaqwa, mi’raj nya orang beriman dan perbuatan terbaik”. Ahlulbait a.s selalu mendengungkan pentingnya kehadiran hati dalam shalat, silahkan merujuk pada kitab Safinah al-Bihar jilid dua halaman empatpuluh lima.

Supaya kita lebih akrab dengan hadis ahlulbait cobalah kita memperhatikan riwayat berikut ini. Diriwayatkan dari Abu Ja’far (Imam Baqir) a.s beliau bersabda, “Sesungguhnya pertama yang dihisab (dihitung di hari kiamat) dari seorang hamba adalah shalat, maka jika shalatnya diterima niscaya semua amalnya selain shalatpun diterima, sesungguhnya apabila shalat terangkat pada waktunya maka akan kembali pada pelakunya dalam kaadaan putih bersinar dan berkata(shalat tsb): kamu telah menjagaku maka Allah menjagamu, dan apabila terangkat bukan pada waktunya, atau tanpa batas-batasnya maka akan kembali pada pelakunya dalam kaadaan hitam gelap dan berkata: kamu menghilangkanku maka Allah menghilangkanmu”.

Syahid Tsani mengatakan banyak sekali hadis Rasulullah mengenai kandungan diatas (dengan sedikit perbedaan kata) seperti halnya dalam kitab al-Faqih 1/134, al-Wasail dalam bab kitabu as-Shalah 248, 249, 259, al-Tahdzib 2/239 dll. Ketahuilah bahwa dari hadis-hadis ini dapat dimengerti ketergatungan diterimanya shalat pada konsentrasi hati terhadap shalat dan berpaling dari selain Allah. Dan diterimanya shalat adalah sebab diterimanya semua amal. Oleh karenanya perhatian terhadap hal ini sangatlah penting, sebaliknya kelalaian akan hal tersebut adalah kerugian besar dan kemerosotan dahsyat dan kehinaan.

Berikut ini berapa hadis lagi berhubungan dengan pentingnya kehadiran hati. Kafi disnadkan pada Abi Ja’far dan Abi Abdillah a.s, bersabda, “Sesungguhnya dari shalatmu hanya sebatas dimana kamu konsentrasi didalamnyalah yang kamu dapatkan, apabila dia meragukan semua shalatnya atau melalaikan adab-adabnya maka shalat itu akan dilipat dan ditamparkan pada wajah pelakunya” (Furu’ al-Kafi 3/ 363). Dan dari Abi Abdillah a.s bersabda, “Adalah satu hal yang sangat dicintai oleh seorang mu’min dari kalian apabila dia melaksanakan shalat wajib hendaknya dia menghadap kepada Allah dan hatinya tidak disibukkan oleh perkara duniawi, maka tidak satu hambapun yang menghadap Allah di dalam shalatnya melainkan Allah menghadapkan wajah-Nya kepadanya, dan menghadapkan semua hati-hati orang beriman kepadanya dengan cinta setelah Cinta-Nya kepadanya”

Derajat-derajat Kehadiran Hati

Dalam telaah kitab akhlaq dan irfan kita dapatkan keterkaitan sempurna dan kurangnya, kemudian bersinar dan keruhnya segala sesuatu dengan suroh nau’iyah (bentuk macam) terakhirnya. Dan tolok ukur kesempurnaan dan kekurangan serta kebahagiaan dan kesengsaraan manusia bergantung pada sempurna dan tidaknya jiwa berakalnya yang merupakan tiupan Ilahi. Begitupula semua ibadah khususnya shalat, sebagai sususnan qudsy (suci) dari tangan Yang agung dan indah, sangat terkait dengan roh gaibnya yang dapat disaksikan oleh jiwa berakal manusia atau hati. Contohnya dimensi batiniyah dan cahaya bentuk perbuatan Ahlulbait adalah yang digambarkan dalam ayat suci al-quran: “Sesungguhnya kami memberi kalian hanya karena Allah tanpa kita inginkan dari kalian balasan ataupun terima kasih”.

Setelah kita ketahui bersama nilai ibadah khususnya shalat bergantung pada kehadiran hati manusia, tentunya kita harus mengetahui tangga kehadiran tersebut sehingga kita dapat melewatinya dengan baik.

Mirza Jawad maliki Tabrizi menjelaskan gerakan manusia terbagi pada lima macam: pertama, yang kosong dari tujuan. Kedua, yang tujuannya tidak sesuai dengan yang dituju. Ketiga, yang bertujuan global dan sesuai. Keempat, yang tujuannya rinci apabila dinisbatkan pada perbuatannya tapi global jika dinisbatkan pada maknanya. Kelima, yang bertujuan rinci baik dalam perbuatan maupun maknanya.

Susunan pembagian ini sangatlah umum, mencakup ibadah dan selain ibadah, padahal kita sekarang sedang membahas ibadah saja, oleh karena itu mari kita mengutip penjelasan beliau yang lain. Dia menyebutkan lima tahapan bagi kehadiran hati: pertama, hati terfokus pada salah satu sisi shalat. Kedua, manusia sibuk dengan pengucapan yang benar. Ketiga, konsentrasi pada pelaksanaan yang benar. Keempat, konsentrasi pada makna dari perbuatan dan ucpan dalam shalat. Kelima, hati setiap orang shalat selalu konsentrasi pada disetiap perbuatan dari shalat dan setiap ucpan dari shalat disaat masing-masing di tambahkan dengan perhatian pada Allah swt, dan inilah tahapan tertinggi.

Susunan ini tidak begitu menarik, karena empat bagian pertama bisa digabungkan dengan benar dalam satu tahapan yaitu kehadiran hati pada ibadah. Sebetulnya yang harus disoroti lebih rinci adalah yang kelima, dan perincian ini hanya dapat ditemukan di dalam kitabnya Imam Khumaini. Kendatipun perincian ini bisa didapatkan dari penjelasan ulama sebelumnya tapi tanpa susunan yang logis.

Beliau berkata: dari hadis “Sembahlah Allah seakan-akan kamu melihatnya, dan jika kamu tidak melihatnya sesungguhnya Dia melihatmu”, bisa disimpulkan dua tahapan kehadiran hati. Pertama, salik (pejalan) menyaksikan keagungan dan keindahan serta tenggelam dalam manivestasi Hadrat Yang tercinta (Allah), dan hatinya hanya konsentrasi pada-Nya. Kedua, pejalan melihat dirinya hadir dihadapan Allah yang kemudian menjaga adab hadir di hadapan-Nya.

Dalam kitabnya yang lain, Beliau merinci penjelasannya, “Harus diketahui bahwa semua ibadah tanpa terkecuali adalah memuji maqom muqoddas rububiyat (posisi suci pengaturan)-Allah-, yang kesemuanya kembali pada pujian terhadap dzat Allah, nama dan sifatnya, pujian terhadap manivestasinya, baik berupa pensucian, pengkudusan, atau pujaan, dan tiada ibadah dari sisi rahasia dan hakekat kosong dari satu martabat pujian Yang disembah”. Oleh karena itu, martabat pertama kehadiran hati dalam ibadah adalah kehadiran hati dalam ibadah secara global, dan ini mudah bagi setiap orang. Yaitu hendaknya manusia memahamkan hatinya bahwa ibadah adalah pintu pemujaan Yang disembah. Dari awal sampai akhir secara global menghadirkan dan mengkonsentrasikan hati pada satu makna bahwa sedang sibuk dengan pemujaan Yang disembah.

Kendatipun dia tidak mengetahui pujaan apa yang dia lakukan, persis seperti perbuatan anak kecil yang menyanyikan pujian untuk seseorang, akan tetapi tidak mengetahui pujian apa yang dia lontarkan.

Martabat kedua adalah kehadiran hati dalam ibadah secara terperinci, yaitu hendaknya hati yang beribadah hadir disemua ibadahnya dan mengetahui dengan apa dia menyifati Haq (Allah) dan bagaimana dia bermunajat. Dan martabat ini memiliki banyak tahapan sesuai dengan beragamnya maqom (posisi) hati dan ma’rifat yang beribadah.

Berikut ini kami menjelaskannya secara umum. Pertama, kelompok yang dari shalat dan semua ibadahnya hanya memahami gambar, kulit dan bentuk mulki (lahiriah) nya. Akan tetapi mereka memahami makna-makna biasa (urfiah) dari dzikir, do’a dan bacaan mereka. Dan kehadiran hati mereka hanyalah dzikir yang menghadirkan makna-makna tersebut melalui bacaan. Dan hati mereka hadir di hadapan Allah dengan munajat. Kelompok ini tidak boleh merasa bangga dengan apa yang ada pada dirinya sehingga dia terikat dengan makna-makna biasa tersebut, karena hal itu salah satu tugas dan keberhasilan besarnya setan.

Kedua, kelompok yang memahami hakekat ibadah, dzikir dan bacaannya dengan akal pemikiran seperti pengetahuan bagaimana kembalinya semua pujian terhadap Allah dengan argumentasi rasional. Hendaknya hati mereka hadir ketika menyebutkan hakekat dan pujian tersebut, memahami apa yang mereka katakan dan bagaimana memuja serta memuji Allah.

Ketiga, mereka yang menjajahi hakekat dengan kaki pemikiran dan rasio, menyampaikannya dengan pena rasio ke papan hati, dan hati merekapun mengenal dan mengimani hakekat. Mereka telah sampai pada iman, ketenangan, dan kesempurnaan taqwa baik dalam amal ataupun hati, mereka adalah pemilik hati.

Keempat, disamping mereka telah menyampaikan hakekat pada tahapan hati, telah sampai maqom kesempurnaan dan ketenangan, mencapai martabat penyingkapan dan kesaksian melalui usaha dan olahraga (riyadloh), mereka mendapatkan hakekat dengan mata malakuti dan pandangan ilahi secara kesaksian hudluri dan gaib. Oleh karena itu para pejalan ini juga memiliki beberapa martabat yang perinciannya keluar dari tampungan lembaran-lembaran ini, secara global kami menyebutkan martabat Ahlul kasyf wa syuhud (ahli penyingkapan dan kesaksian) yakni kehadiran hati didalam Yang disembah (kehadiran hati di dalam manivestasi perbuatan Tuhan).

Lajeng......

Sabtu, 27 Februari 2010

 Obat Penenang Hati

Sebagai orang beriman, seseorang harus senantiasa meng-agungkan Allah Azza wa jalla, takut dan berharap hanya kepada Nya semata, dan merasa malu bila mengabaikanNya. Seorang mukmin tidak boleh kendor dari tingkatan iman yang telah dicapainya, meski intensitas keimanan seseorang amat ditentukan oleh tingkat kekuatan iman yang dimiliki. Terabaikannya hal-hal tersebut dalam sholat, dapat disebabkan oleh kekacauan pikiran, perhatian yang terpecah, hilangnya jiwa dalam munajat, dan lalai dalam sholat. Oleh karena itu aktivitas mental yang acak yang akan mengganggu sholat sedapat mungkin harus diatasi, sehingga ketenangan hati selalu terjaga dalam setiap sholat. Untuk menghilangkan gejala tersebut, kita harus mencari penyebabnya, karenanya marilah kita cari di mana letak penyebabnya. Pikiran sesat memang dapat disebabkan oleh hal-hal yang bersifat lahiriah, ataupun hal-hal yang bersifat batiniah.


Sebab-sebab lahiriah (eksternal) merampas perhatian kita lewat mata dan telinga. Semula kita hanya menaruh perhatian. Kemudian pikiran mulai tertarik, dan akhirnya proses berlangsung terus. Penglihatan merangsang pemikiran, dan pikiran akan mendorong lahirnya sesuatu yang lain. Kesan yang ditangkap oleh indera tidak akan pernah menyesatkan mereka yang berkemauan kuat dan bercita mulia, tetapi akan sangat mengganggu mereka yang lemah.

Penyembuhannya adalah dengan memotong habis penyebab-penyebab tersebut dengan jalan menundukkan pandangan, berdoa di tempat yang sunyi dan terpisah, tidak membiarkan adanya pengganggu panca indera, atau sholat dengan posisi dekat dinding, yang dapat mengurangi jangkauan indera penglihatan. Sebaliknya, sebaiknya menghindari dari sholat di tepi jalan, di tempat yang penuh ukiran dan karya seni serta di atas alas bercorak warna-warni.

Itulah mengapa orang-orang yang tekun beribadah biasanya sholat ditempat yang sempit dan bercahaya temaram, yang hanya cukup untuk bersujud, namun demikian hal ini lebih mudah untuk melakukan pemusatan pikiran (khusyu’). Mereka yang menunaikan sholat di masjid, selalu menjaga pandangannya agar tetap tertuju ke tempat sujud. Mereka merasa bahwa sholatnya akan sempurna apabila tidak terpengaruh oleh orang yang ada di sisi kanan dan kirinya. Ibnu Umar tidak pernah membiarkan sesuatu tergeletak di tempat sujud, bahkan satu mushaf Al-Qur;an sekalipun. Ia akan menyisihkan pedang dan akan menghapus tulisan yang ada di hadapannya.

Sebab-sebab batiniah (internal) merupakan suatu persoalan yang lebih serius dan untuk mengatasinya memang lebih sulit. Barangsiapa pikirannya bercabang-cabang pada persoalan duniawiah, niscaya akan melayang-layang ke mana-mana. Menutup mata sekalipun tidak akan membantu memecahkan persoalan, karena sumber gangguan sudah ada di dalam diri. Maka cara untuk mengatasi gangguan tersebut adalah dengan memahami makna bacaan sholat, kemudian berusaha memusatkan perhatian pada makna tersebut, seraya mengusir pikiran lain. Akan sangat bermanfaat apabila sebelum takbiratul ihram melakukan beberapa persiapan, yaitu dengan memperbarui ingatan akan kemungkinan datangnya hari akhirat, dengan menyadari bahwa dirinya akan mermunajat kepada Allah Azza wa jalla, Dzat Yang Maha Perkasa. Tak kalah pentingnya, apabila sebelum takbiratul ihram kita mengosongkan hati dan pikiran dari segala sesuatu yang mengganggu, serta membebaskan diri daripadanya.

Rasulullah saw. pernah bersabda kepada Utsman bin Abi Syaibah, “Aku lupa mengingatkanmu agar menyembunyikan periuk yang ada di rumahmu. Sesungguhnya tidak wajar, apabila di dalam rumah ada sesuatu yang dapat mengganggu manusia dari sholatnya.” (HR Abu Dawud, dari Utsman bin Thalhah). Ini adalah suatu teknik menenangkan pikiran. Apabila gejolak pikiran tidak kunjung reda, maka yang diperlukan bukan lagi obat penenang, melainkan pencahar yang akan menguras seluruh sumber penyakit hingga ke akar-akarnya.

Artinya bahwa orang tersebut harus meneliti segala sesuatu yang mengganggu dan menyelewengkan ketenangan hati. Tidak perlu diragukan lagi, penyebabnya dapat ditelusuri pada apa saja yang diminatinya, dan telah berbalik menjadi salah satu bentuk hawa nafsu.

Oleh sebab itu, setiap orang harus berupaya mengendalikan nafsu dengan cara mengosongkan diri, mengekang, atau memutuskan hubungan dengan godaan nafsu. Segala sesuatu yang mengganggu sholat adalah musuh agama, termasuk tentara iblis yang bermaksud mengganggu manusia. Dan menahannya jelas akan mendatangkan kemudharatan, dan akan lebih baik untuk mengeluarkannya. Oleh sebab itu, orang harus berdisiplin, untuk selalu berupaya membersihkan diri dari segala sesuatu yang dapat mengganggu sholat. Rasulullah saw. Suatu saat pernah sholat menggunakan jubah yang bersulam indah, pemberian Abu Jahm. Seusai sholat beliau bermaksud mengembalikan jubah tersebut, dan berkata, “Kembalikan jubah ini kepada Abu Jahm, karena jubah itu telah mengganggu sholatku. Dan tukarkan saja dengan jubah Abu Jahm yang sudah sering dipakainya itu.” (H.R.. Bukhori Muslim). Rasulullah saw juga pernah memiliki sandal baru. Beliau sangat senang terhadap sandal tersebut, sehingga ketika sholat muncul keinginan untuk melihatnya. (H.R. Ibnul Mubarak).

Menurut hadis lain, nabi Muhammad saw. Menyadari keteledorannya, sehingga ketika sujud, beliau berdoa, “Kurendahkan diri dihadapanMu ya Allah, kiranya Engkau tidak memurkaiku.” Lalu setelah sholat beliau beranjak pergi, dan memberikan sandal baru tersebut kepada pengemis pertama yang dijumpainya. Kemudian beliau meminta kepada Ali ra. Untuk membelikan sandal dari kulit yang hanya dibuang bulunya saja. (H.R. Abu Abdullah bin Haqiq).

Sebelum turun larangan bagi laki-laki untuk memakai hiasan emas, Rasulullah saw. Biasa memakai cincin emas di jarinya. Dan ketika beliau berdiri di atas mimbar, cincin itu pun dibuang seraya bersabda, “Barang itu telah menggangguku, aku harus memandang benda tersebut dan juga memandangmu.” (H.R. an Nasa’i).

Diriwatkan bahwa Abu Thalhah suatu hari sholat di taman miliknya, kemudian pandangannya tertuju pada burung penghisap madu, dan matanya mengikuti gerak burung tersebut, sehingga tak ingat berapa banyak rakaat yang sudah diselesaikannya. Kemudian, seusai sholat Abu Thalhah mendatangi Rasul saw. Dan menerangkan kekacauan yang baru saja menimpanya, dan kemudian berkata, “Ya Rasulullah, taman ini telah memalingkanku dari sholat (yang khusyu’), kini aku hendak menyedekahkannya. Gunakan sekehendak Anda, ya Rasulullah.” (H.R. Imam Malik). Sedang menurut riwayat lain, Abu Thalhah ketika sholat di taman terganggu oleh dengung lebah yang mengelilingi buah dari pohon yang ada di taman tersebut. Ia bertemud engan Utsman ra. Dan kemudian menawarkan taman tersebut sebagai sedekah, agar dimanfaatkan bagi kepentingan di jalan Allah. Utsman kemudian menjual taman tersebut seharga lima puluh ribu.

Hal demikian dimaksudkan untuk menghilangkan pengganggu pikiran dan juga menutupi kekurangan sholat yang telah dilaksanakannya. Obat-obat (pengobatan) ini jelas diharapkan dapat mengatasi sumber penyakitnya; itu adalah obat yang paling efektif. Cara-cara lunak seperti menenangkan diri dan berkonsentrasi penuh pada pemahaman ucapan sholat, hanya bermanfaat jika godaan hawa nafsu dan angan-angan berskala rendah. Akan tetapi tidaklah tepat (mengambil cara tersebut) apabila gangguan dan godaan terlalu kuat, karena justru akan menarik Anda sehingga kehilangan milik terbaik Anda. Disamping itu, Anda juga akan terbelenggu, sehingga seluruh sholat yang Anda kerjakan terganggu.

Perhatikan analogi ini:
Ada seorang laki-laki bersandar dibawah pohon untuk istirahat. Ia bermaksud mengosongkan pikirannya, tetapi di atas dahan, burung pipit bertengger sambil tak henti-hentinya berkicau. Lewat sepotong kayu di tangannya, diusirnya burung tersebut, tetapi tidak pernah berhasil. Kembali ia menenangkan pikirannya, dan burung pipit itupun kembali berkicau. Akhirnya datang seseorang dan berkata kepadanya, “Ini adalah pekerjaan yang sia-sia, dan tidak akan pernah ada habisnya. Jika anda menghendaki penyelesaian tuntas, maka potonglah pohon tersebut!” Agaknya seperti itulah pohon hawa nafsu. Jika ia telah bersemi dan bercabang, niscaya akan menempel segala pikiran dan keinginan, sebagaimana burung pipit yang hinggap di dahan. Demikian pula tertariknya lalat pada kotoran-kotoran, yang sudah merupakan karakteristiknya. Dan pikiran yang kacau, ibarat lalat yang beterbangan ke sana ke mari.

Sesungguhnya manusia sentiasa dikelilingi oleh hawa nafsu dan mustahil terbebas darinya, dan juga tidak semua orang bisa mengatasinya. Hawa nafsu tersebut memiliki akar yang sama, yaitu cinta dunia. Inilah sumber dari setiap kesalahan, kekurangan dan kerusakan. Dengan hati yang dipenuhi rasa cinta dunia, seseorang akan demikian tergila-gila terhadapnya, sehingga iapun lalai untuk mencari bekal kehidupan akhirat.

Orang seperti itu tidak akan pernah merasakan nikmatnya sholat. Mereka yang terlalu cinta dunia, berkuranglah cintanya kepada Allah, bahkan mungkin tidak bermunajat kepadaNya. Pada dasarnya manusia digerakkan oleh apa yang dicintainya, sehingga bila kesenangan atau kecintaannya tertumpu pada dunia seisinya, pasti hanya dunia itu saja yang ada di dalam pikirannya. Namun demikian, manusia yang mengharapkan rahmat Allah swt, harus selalu berupaya mengembalikan hatinya pada sholat, dan mengurangi atau mengatasi apa saja yang dapat memalingkan dari Nya.

Ini adalah obat pahit, sedemikian pahitnya, sehingga kita lebih suka memuntahkannya. Bila demikian, maka penyakitnya akan tetap kronis dan tidak akan tersembuhkan. Orang-orang sufi pada umumnya melakukan sholat dengan khusyu’, di dalam hatinya tidak sedikitpun terbesit perkara-perkara duniawi, lain halnya diri kita yang mengerjakan sholat sebatas sebagai tugas. Maka, tiada harapan bagi orang seperti kita! Bila kita sekedar ingin selamat dari murka Allah, hanya karena sepertiga atau setengah sholat kita, sungguh amal kita adalah campuran antara yang baik dan yang buruk!

Kesimpulannya, segala keinginan duniawi dan ukhrawi di dalam hati manusia bagaikan air yang dituang ke dalam segelas cuka; seberapa banyak air yang tertuang, sebanyak itu pula cuka yang akan tumpah dari dalam gelas dan keduanya tidak akan tercampur.



Keadaan Batin Pada Setiap Tahapan Sholat


Adzan
Ketika anda mendengar panggilan sholat oleh muadzin, maka berusahalah membayangkan hingar bingar teriakan di hari kiamat. Persiapkan diri, lahir dan batin untuk menjawabnya. Mereka yang segera menjawab ajakan tersebut, niscaya akan menjadikan dirinya orang yang mendapat perlakuan lemah lembut di hari pembalasan nanti. Untuk itu ingatlah sekarang: Jika Anda menjawab seruan dengan rasa senang dan gembira, didorong oleh keinginan memenuhi panggilan adzan, percayalah di hari pengadilan kelak Anda akan bersuka ria dengan kabar gembira dan kemenangan. Itulah mengapa Rasulullah saw. Sering berkata, “Gembirakanlah kami wahai Bilal!” demikianlah karena Bilal seorang muadzin, dan shoalt itu sendiri merupakan kegembiraan dan kesenangan bagi Rasulullah saw.

Bersuci Diri
Ketika hendak menyucikan sesuatu yang ada disekitar anda secara cepat ruangan, pakaian, hingga akhirnya kulit anda maka jangan sampai mengabaikan keadaan batin, ayng merupakan tempat bersemayamnya hati, tempat bersemayamnya segala sesuatu. Bersungguh-sungguhlah untuk menyucikan dengan bertobat dan menyesali diri, serta janji untuk meninggalkannya di masa mendatang. Bersihkanlah batin anda dengan cara ini, karena batin merupakan tempat yang diawasi oleh Dzat yang anda sembah.

Menutup Aurat
Menutup aurat berarti anda menutup bagian-bagian tubuh dari pandangan manusia. Tetapi bagaimana mengenai aurat batin dan rahasia pribadi anda yang keji, dimana hanya Allah swt. Sajalah yang menyaksikannya? Sadarilah kesalahan-kesalah ini. Tutupilah semuanya, tetapi ingat bahwa tiada sesuatupun yang dapat disembunyikan dari penglihatanNya. Hanya dengan tobat, malu serta takut, niscaya Allah akan memaafkannya.

Menghadap Kiblat
Menghadap kiblat berarti anda memalingkan wajah lahiriyah dari segala arah selain ke arah Rumah Allah swt. (Ka’bah). Apakah anda mengira bahwa tidak akan diminta untuk memalingkan hati dari segala sesuatu, lalu hanya menghadapkan diri kepada Allah swt. Semata? Tentu saja tidak benar, karena Ka’bah ini merupakan tujuan dan seluruh gerak sholat! Nabi Muhammad pernah bersabda, “Ketika seseorang sholat, dimana keinginan, wajah dan hatinya hanya tertuju kepada Allah Azza wa jalla, maka seusai sholat akan menjadikan dirinya bagaikan bayi yang baru dilahirkan ibunya.”

Berdiri Tegak
Berdiri tegak, maksudnya beridir lurus lahir dan batin di hadapan Allah Azza wa jalla. Kepala anda, yang merupakan bagian tertinggi dari tubuh, supaya sedikit membungkuk sebagai tanda kerendahan hati serta melepaskan diri dari keangkuhan dan kesombongan.

Niat
Ketika bernia, bayangkan bahwa diri anda tengah memenuhi pangilanNya, dengan melaksanakan sholat dalam rangka kepatuhan terhadap perintahNya, dengan cara melaksanakan sholat secara tepat serta menghindarkan dan meniadakan segala sesuatu yang akan mengganggu dan merusakkannya. Dan dengan melakukan semuanya secara tulusdan ikhlas semata-mata karena Allah Azza wa jalla, demi mengharap ganjaran dari Nya dan dijauhkan dari siksaNya, mencari kasih dan sayangNya

Takbir
Ketika mengucapkan takbir, hati anda tidak boleh menyangkal apa yang tengah diucapkan oleh bibir anda. Bila di dalam hati anda merasa bahwa ada sesuatu yang lebih dari Allah swt, walau apa yang anda ucapkan benar, maka Allah swt, akan menggolongkan anda seorang penipu.

Doa Iftitah
Ketika mengucapkan doa iftitah (pembuka), anda tengah mewaspadai kemusyrikan yang ada di dalam diri. Ini berkenaan dengan mereka yang beribadah demi mansuia, ataupun yang mengharapkan rahmat Allah Azza wa jalla semata. DifirmankanNya “maka barangsiapa mengharapkan pertemuan denagn Tuhannya, hendaklah mengerjakan amal kebaikan. Dan dalam beribadah kepadaNya, jangan mempersekutukan Dia dengan sesuatupun.” (QS.18:110)

Ketika anda mengucapkan “Auszu billahi minasy syaithanirrajim” (Aku berlindung kepada Allah swt dari godaan setan ayng terkutuk), maka sesungguhnya harus disadari bahwa setan adalah musuh sejati, dan ia selalu mencari celah dan kesempatan untuk memisahkan anda dan Allah Azza wa jalla. Setan akan selalu menghalangi anda dalam melakukan munajat kepada Allah swt. Dan untuk bersujud kepadaNya

Membaca Ayat Al-Qur’an
Mengenai membaca Al-Qur’an, maka dapat dibedakan dalam tiga kategori, yaitu:
1. Mereka yang menggerakkan lidahnya tanpa kesadaran (artinya tidak memahami apa yang dilafalkan oleh lidah)
2. Mereka yang secara sadar memahami apa yang dilafalkan oleh lidah, memahami maknanya dan seolah mendengarkannya sebagai ucapan orang lain, inilah derajat yang dicapai “golongan kanan”
3. Mereka yang bermula dari menyadari makna, menjadikan lidah sebagai juru bahasa bagi kesadaran batin. Lidah memang dapat berperan sebagai penerjemah batin dan sekaligus guru sejati bagi hati. Bagi mereka yang sangat dekat dengan Tuhan, maka lidah berperan sebagai penerjemah

Rukuk
Allah swt. Menyaksikan hambaNya yang tengah berdiri, rukuk dan sujud. Sebagaimana Dia berfirman, “Yang melihatmu ketika berdiri dan melihat gerak gerikmu di tengah orang-orang yang bersujud” (QS 26:218)
Rukuk dan sujud yang disertai pengakuan akan keagungan Allah Azza wa jalla. Di dalam rukuk, Anda memperbarui penyerahan diri dan rasa rendah hati, serta selalu menyebarkan kesadaran betapa ketidak mampuan dan ketidak bermaknaan kita dihadapan Dzat Yang Maha Agung. Untuk menegaskan hal ini, anda memerlukan (mencari) bantuan lidah, dengan mengagungkan asma Tuhan serta berulang kali mengakui keagungan kekuasaanNya, baik secara lahirah ataupun batiniah.

Kemudian anda bangkit dari rukuk, berharap bahwa Dia (Allah) akan mencurahkan rahmatNya kepada anda. Untuk mempertegas harapan ini dalam diri anda mengucapkan, “”Sami’allahu liman hamidah” (Allah mendengar siapa saja yang memujiNya). Untuk menyatakan syukur, anda segera menambah, “Rabbana lakal hamdu” (Wahai Tuhan, hanya bagiMu lah segala pujian). Untuk menunjukkan banyaknya atau memperbanyak pujian, anda juga mengucapkan, “mil as samawati wa milal ardhi” (yang memenuhi seluruh langit dan bumi).

Sujud
Selanjutnya anda bersujud. Ini adalah tingkatan pengungkapan penyerahan diri tertinggi, yang mana anda menyentuhkan bagian termulia dari badan, wajah ke wujud yang rendah, tanah. Apabila mungkin, akan lebih baik bersujud tanpa alas, yang tentu saja hal ini lebih menggambarkan sikap kerendahan hati dan berserah diri.

Apabila anda meletakkan diri dalam posisi yang sedemikian rendah, maka akan lebih menyadari dengan siapa anda berhadapan. Anda telah mengembalikan cabang pada akarnya, karena anda berasal dari tanah dan kelak akan kembali ke tanah pula. Pada saat yang sama anda juga memperbarui kesadaran batin akan keagungan Tuhan, seraya berkata, “Subhana rabbiyal a’la” (Mahasuci Tuhan Yang Mahatinggi). Pengulangan ucapan ini hanya akan lebih memperkuat pengakuan anda, karena mengucapkannya hanya sekali saja dirasa tidak memadai.

Ketika batin anda merasa terpuaskan dalam mengharapkan kasih sayang Ilahi, yakinlah bahwa Tuhan akan selalu mengaruniakan kasih dan sayang Nya. Bahwa kasih dan sayangNya selalu mengalir kepada mereka yang lemah dan rendah, tidak bagi yang sombong dan congkak.

Selanjutnya anda mulai mengangkat kepala kemudian bertakbir, “Allahu Akbar” (Allah Maha Agung) dan mintalah apa yang anda perlukan, mohonlah hajat anda, seperti, “Rabbigh fir war ham wa tajaa waz’ amma ta’lam” (Ya Allah, ampuni dan kasihanilah aku! dan lepaskanlah dari dosa yang Engkau ketahui). Selanjutnya anda sujud untuk yang kedua kalinya, yang memperkuat penyerahan diri kepada Allah swt.

Duduk dan Tasyahud
Ketika anda duduk untuk mengucapkan pengakuan (tasyahud), duduklah dengan sopan. Ungkapkan bahwa sholat dan seluruh amal sholeh yang anda lakukan itu semua semata-mata demi mengharap kasih sayangNya, dan segala sesuatu hanyalah milikNya. Itulah ayng dimaksudkan bahwa segala kehormatan (at tahiyyat) adalah milik Allah swt. “Assalamu’alaika ayyuhan nabiyyu wa rahmatullahi wa barakatuh”. (Salam sejahtera semoga selalu terlimpah bagi Rasul saw. Serta rahmat dan berkah Allah atasnya).

Yakin bahwa salam yang anda ucapkan akan sampai kepada beliau. Dan beliau juga akan menjawab, bahkan dengan salam yang lebih sempurna bagi anda. Kemudian ucapkan pula salam bagi diri anda serta seluruh hamba Allah yang sholeh. Kemudian persaksikan bahwa tiada Tuhan selain Allah, dan Muhammad adalah utusanNya. Dengan mengulang dua kali kesaksian tersebut, anda telah mengulang kembali pengakuan atas kasih sayang Allah Azza wa jalla, dan meyakinkan diri akan perlindunganNya.

Doa Penutup
Pada akhir sholat, hendaknya anda berdoa memohon kepadaNya penuh harap secara santun dan disertai kerendahan hati, dengan yakin bahwa permohonan itu didengar. Tunjukkan doa anda termasuk kepada orang tua serta orang-orang beriman lainnya.

Salam
Akhirnya, dengan maksud mengakhiri sholat anda, ucapkan salam kepada para malaikat dan mereka yang hadir. Rasakan semua itu sebagai ungkapan syukur kepada Allah swt. Atas segala karuniaNya karena anda dapat menyelesaikan sholat. Bayangkan bahwa anda tengah mengatakan selamat berpisah pada ibadah sholat, dan bahwa mungkin anda meninggal hingga tidak bisa lagi melakukan seperti ini.

Ada juga dlm suatu riwayat sperti ini :
Ada salah seorang sahabat Nabi, dan dia punya bebrapa orang santri. Sauatu hari, seorang santrinya mengeluh kepada sahabat tersebut. “ Akhir- akhir ini saya sering kurang nikmat tidur, fikiran saya tidak karuan, hati saya tidak tenang, dan perilaku saya pun tidak menentu”, kata sang santri. “ Saya minta tolong kepada tuan, nasihati saya supaya permasalahan yang sedang saya hadapi bisa terpecahkan”, lanjut santri. Sahabat pun menjawab, “ Ada tiga hal yang perlu kamu lakukan dan insya Allah akan membuat kamu tenang”.
Bacalah Al-qur’an, dan kalau kamu tidak mampu, dengarkanlah orang yang sedang membaca Al-qur’an dengan setulus hatimu. Mungkin untuk kita tidak terlalu sulit kalau hanya sekedar membaca Al-qur’an, bahkan mungkin kita setiap habis sholat selalu membaca. Tapi yang sulit adalah memahami makna dari setiap ayat yang kita baca, dan menerapakan dalam kehidupan sehari- hari.

Ajaklah dirimu dan hatimu untuk hadir dalam majlis ta’lim, karena disanalah tempat dimana kamu akan selalu diajak menuju kebaikan. Kalau untuk hadir dalam majlis ta’lim, bagi sebagian orang adalah hala yang berat. Apalagi bagi orang yang masih berumur muda, itu akan lebih sulit ( termasuk aku ). Pegel, ngantuk, dan bosen akan menjadi halangan utama yang berdiri kokoh untuk menghadang langkah kaki menuju majlis ta’lim. Nongkrong di mall, café, atau hura- hura di dikostik, adalah tempat favorit bagi sebagian anak muda ( kalau yang ini tidak termasuk aku ). Dari pada mereka harus duduk manis, mendengarkan ustad berbicar serta megajak kita untuk menuju jalan yang baik.

Berdzikir dan berdo’alah kepada Allah. Dengan berdzikir, kita akan selalu meningat Allah, akan selalu takut kapadanya. Lantas ketenangan akan hadir menghiasi hati kita, mengalahkan kegundahan dan ketidakjelasan fikiran. Dan do’a adalah obat yang mujarab, dengan meminta kepada Allah dan DIA akan mengabulkannya.

Karena terlalu menumpuknya pekerjaan, masalah- masalah yang ada, dan berbagai hal yang kadang membuat hati kita tidak tenang. Tentunya kita butuh obat, obat yang akan menghilangkan kepenatan dan kegundahan hati. Ketiga nasehat dari sahabat Nabi kepada santrinya, adalah yang perlu kita coba. Seperti dalam lirik lagu yang di senandungkan oleh, “ bila hati tak gelisah, tak tenag, tak tentram. Bila hatimu goyah, terluka, merana. Jauhkah hati ini, dari Tuhan, dari Allah”. Dengan mendekatkan diri kepada Allah, kita akan selalu merasa tenang. Dan saat kita jauh dari-NYA, kegundahan dan kegelaisahan akan dengan mudah bersemayam dalam hati.

Lajeng......

Kamis, 07 Januari 2010

 Membangun Kepribadian Islami

Manusia adalah makhluk yang paling sempurna dan paling mulia dibanding dengan makhluk-makhluk Allah lainnya. Allah SWT berfirman,

“Dan sesungguhnya telah kami muliakan anak-anak Adam, Kami angkut mereka di daratan dan di lautan, Kami beri mereka rezki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah kami ciptakan.” (QS. Al Isra: 70)


Urgensi Kepribadian Islami

Menjadi pribadi yang Islami merupakan suatu hal yang sangat diperhatikan dalam agama Islam. Hal ini karena Islam itu tidak hanya ajaran normatif yang hanya diyakini dan dipahami tanpa diwujudkan dalam kehidupan nyata, tapi Islam memadukan dua hal antara keyakinan dan aplikasi, antara norma dan perbuatan , antara keimanan dan amal saleh. Oleh sebab itulah ajaran yang diyakini dalam Islam harus tercermin dalam setiap tingkah laku, perbuatan dan sikap pribadi-pribadi muslim.

Memang, setiap jiwa yang dilahirkan dalam keadaan fitrah. Tapi bukan berarti kesucian dari lahir itu meniadakan upaya untuk membangun dan menjaganya, justru karena telah diawali dengan fitrah itulah, jiwa tersebut harus dijaga dan dirawat kesuciannya dan selanjutnya dibangun agar menjadi pribadi yang islami.

Ruang Lingkung Kepribadian Islami

Sisi yang harus dibangun pada pribadi muslim adalah sebagai berikut:

A. Ruhiyah (Ma’nawiyah)

Aspek ruhiyah adalah aspek yang harus mendapatkan perhatian khusus oleh setiap muslim. Sebab ruhiyah menjadi motor utama sisi lainnya, hal ini bisa kita simak dalam firman Allah SWT di Surat Asy-Syams : 7-10

“Dan jiwa serta penyempurnaannya (ciptaannya), Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketaqwaannya. Sungguh sangat beruntung orang yang mensucikannya dan sungguh merugilah orang yang mengotorinya,” (QS. Asy Syams: 7-10).

Dan dalam surat Al Hadid ayat 16:

“Belumkah datang waktunya untuk orang-orang yang beriman untuk tunduk hati mereka berdzikir kepada Allah dan kepada kebenaran yang telah turun kepada mereka dan janganlah mereka seperti orang-orang yang sebelumnya telah diturunkan Alkitab di dalamnya, kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka lalu hati mereka menjadi keras, dan kebanyakan di antara mereka adalah orang-orang yang fasik ” QS. Al-Hadid:16).

Ayat-ayat di atas memberikan pelajaran kepada kita akan pentingnya untuk senantiasa menjaga ruhiyah, kerugian yang besar bagi orang yang mengotorinya dan peringatan keras agar kita meninggalkan amalan yang bisa mengeraskan hati. Bahkan tarbiyah ruhiyah adalah dasar dari seluruh bentuk tarbiyah, menjadi pendorong untuk beramal saleh dan dia juga memperkokoh jiwa manusia dalam menyikapi berbagai problematika kehidupan.

Aspek-aspek yang sangat terkait dengan ma’nawiyah seseorang adalah:

a. Aspek Aqidah. Ruhiyah yang baik akan melahirkan aqidah yang lurus dan kokoh, dan sebaliknya ruhiyah yang lemah bisa menyebabkan lemahnya aqidah. Padahal aqidah adalah suatu keyakinan yang akan mewarnai sikap dan tingkah laku seseorang. Oleh sebab itu kalau ingin aqidahnya terbangun dengan baik maka ruhiyahnya harus dikokohkan. Jadi ruhiyah menempati posisi yang sangat penting dalam kehidupan seorang muslim karena dia akan mempengaruhi bangunan aqidahnya.

b. Aspek akhlaq. Akhlaq adalah bukti tingkah laku dari nilai yang diyakini seseorang. Akhlaq merupakan bagian penting dari keimanan. Akhlaq juga salah satu tolok ukur kesempurnaan iman seseorang. Terawatnya ruhiyah akan membuahkan bagusnya akhlaq seseorang. Allah swt dalam beberapa ayat senantiasa menggandengkan antara iman dengan berbuat baik. Rasulullah saw pun ketika ditanya tentang siapakah yang paling baik imannya ternyata jawab Rasulullah saw adalah yang baik akhlaqnya (“ahsanuhum khuluqan”)

أي المؤمنين افضل إيمانا ؟ قال احسنهم خلقا. رواه ابو داود والترمذى والنسائ والحاكم.

“Mukmin mana yang paling baik imannya? Jawab Rasulullah ” yang paling baik akhlaqnya” (HR. Abu Daud, Tirmidzi dan Nasa’i)

Bahkan diutusnya Rasulullah –shallallâhu `alaihi wa sallam- pun untuk menyempurnakan akhlaq manusia sehingga menjadi akhlaq yang islami

َ إًَِنما بعثت لأتمم مكا رم الأخلاق

Tolok ukur dan patokan baik dan tidaknya akhlaq adalah al-Qur’an. Itulah sebabnya akhlaq keseharian Rasulullah –shallallâhu `alaihi wa sallam- merupakan cerminan dari Al-Qur’an yang beliau yakini. Hal ini terbukti dari jawaban Aisyah ra ketika ditanya tentang bagaimana akhlaq Rasulullah –shallallâhu `alaihi wa sallam- , jawab beliau “Akhlaq Rasulullah –shallallâhu `alaihi wa sallam- adalah al-Qur’an.

كان خلقه القرآن

c. Aspek tingkah laku. Tingkah laku adalah cerminan dari akhlaq yang melekat pada diri seseorang….

B. Fikriyah (‘Aqliyah)

Kepribadian Islami juga ditentukan oleh sejauh mana kokoh dan tidaknya aspek fikriyah. Kejernihan fikrah, kekuatan akal seseorang akan memunculkan amalan, kreativitas dan akan lebih dirasa daya manfaat seseorang untuk orang lain. Fikrah yang dimaksud meliputi:

a. Wawasan keislaman. Sebagai seorang muslim menjadi keniscayaan bagi dia untuk memperluas wawasan keislaman. Sebab dengan wawasan keislaman akan memperkokoh keyakinan keimanan dan daya manfaat diri untuk orang lain.

b. Pola pikir islami. Pola pikir islami juga harus dibangun dalam diri seorang muslim. Semua alur berpikir seorang muslim harus mengarah dan bersumber pada satu sumber yaitu kebenaran dari Allah swt. Islam sangat menghargai kerja pikir ummatnya. Di dalam al-Qur’an pun sering kita jumpai ayat ayat yang menganjurkan untuk berpikir: “afala ta’qiluun, afala tatafakkaruun, la’allakum ta’qiluun, la’allakum tadzakkaruun,”

افلا تعقلون ,أفلا تذكرون, افلا تتفكرون, لعلكم تعقلون,لعلكم تذكرون

Seorang muslim harus senantiasa menggunakan daya pikirnya. Allah mewujudkan fenomena alam untuk dipikirkan, beraneka macamnya tingkah laku manusia sampai adanya aneka pemikiran dan pemahaman manusia hendaknya menjadi pemikiran seorang muslim. Tetapi satu hal yang tidak boleh dilupakan adalah bahwa tujuan berpikir tidak lain adalah untuk meningkatkan keimanan kita kepada Allah –subhânahu wa ta`âlâ- bukan sebaliknya.

c. Disiplin (tepat) dan tetap (tsabat) dalam berislam. Sungguh kehidupan ini tidak terlepas dari ujian, rintangan dan tantangan serta hambatan. Ujian tersebut tidak akan berakhir sebelum nafasnya berakhir. Oleh sebab itulah untuk menghadapinya perlu tsabat dalam berpegang pada syariat Allah swt.

“dan sembahlah Tuhanmu sampai datang kepadamu yang diyakini (ajal).” (QS. Al-Hijr: 99)

Di surat Ali Imran: 102 Allah SWT menjelaskan,

“Wahai orang-orang yang beriman bertaqwalah kamu sebenar-benar taqwa. Dan jangan sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam.” (QS. Ali Imran: 102)

Begitu pentingnya tsabat dijalan Allah, sampai Rasulullah –shallallâhu `alaihi wa sallam- mengajarkan do’a kepada ummatnya, sebagai berikut:

اللهم يا مقلب القلوب ثبت قلوبنا على دينك (رواه الترمذى)

“Wahai Dzat yang membolak-balikkan hati, kokohkanlah hati-hati kami untuk tetap berada pada agamaMu “

C. Amaliyah (Harokiyah)

Di antara sisi yang harus dibangun pada pribadi muslim adalah sisi amaliyahnya. Amaliyah harakiah yang merubah kehidupan seorang mukmin menjadi lebih baik. Hal ini penting sebab amaliyah adalah satu di antara tiga tuntutan iman dan Islam seseorang. Tiga tuntutan tersebut adalah: al-iqror bil- lisan (ikrar dengan lisan), at-tashdiq bil-qalb ( meyakini dengan hati), dan al-amal bil jawarih (beramal dengan seluruh anggota badan). Jadi tidak cukup seseorang menyatakan beriman tanpa mewujudkan apa yang diyakininya dalam bentuk amal yang nyata.

“Maka katakanlah “beramallah kamu niscaya Allah dan RasulNya serta orang-orang beriman akan melihat amalanmu itu. Dan kamu akan dikembalikan kepada Allah yang mengetahui yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakanNya kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.” (QS. at-Taubah: 105)

Umat Islam dituntut oleh Allah –subhânahu wa ta`âlâ- untuk menunaikan sejumlah amal, baik yang bersifat individual maupun yang kolektif bahkan kewajiban yang sistemik. Kewajiban individual akan lebih khusyu’ dan lebih baik pelaksanaannya jika ditunjang dengan sistem yang kondusif. Shalat, puasa , zakat dan haji misalnya akan lebih baik dan lebih khusyu’ kalau dilaksanakan di tengah suasana yang aman tenteram dan kondusif. Apalagi kewajiban yang bersifat sistemik seperti dakwah, amar ma’ruf nahi mungkar, jihad dsb, mutlak memerlukan ketersediaan perangkat sistem yang memungkinkan terlaksananya amal tersebut.

Pentingnya amaliyah harakiah dalam kehidupan seorang mukmin laksana air. Semakin banyak air bergerak dan mengalir semakin jernih dan semakin sehat air tersebut. Demikian juga seorang muslim semakin banyak amal baiknya, akan semakin banyak daya untuk membersihkan dirinya, sebab amalan yang baik bisa menjadi penghapus dosa. Simaklah QS. Huud: 114

“Dan dirikanlah shalat pada kedua tepi siang (pagi dan petang) dan pada bagian permulaan malam, sesungguhnya perbuatan yang baik itu menghapuskan perbuatan yang buruk (dosa), itulah peringatan bagi orang-orang yang ingat”. (QS. Huud: 114)

Ada sedikitnya tiga alasan kenapa seorang harus beramal:

1. Kewajiban diri pribadi.

Sebagai hamba Allah tentunya harus menyadari bahwa dirinya diciptakan bukan untuk hal yang sia-sia. Baik jin dan manusia Allah ciptakan untuk tujuan yang amat mulia yaitu untuk beribadah, menghamba kepada Allah –subhânahu wa ta`âlâ-. Amalan adalah bentuk refleksi dari rasa penghambaan diri kepada Dzat yang mencipta.

“Dan tidak Aku ciptakan jin dan manusia kecuali agar mereka beribadah” (QS. Adz Dzaariyaat: 56)

Di samping itu pertanggungjawaban di depan mahkamah Allah nanti bersifat individu. Setiap individu akan merasakan balasan amalan diri pribadinya.

“Dan bahwasanya manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya.Dan bahwasanya usahanya itu kelak akan diperlihatkan kepadanya. Kemudian akan diberi balasan kepadanya dengan balasan yang paling sempurna” (QS. an-Najm: 39-41).

2. Kewajiban terhadap keluarga.

Keluarga adalah lapisan kedua dalam pembentukan ummat. Lapisan ini akan memiliki pengaruh yang kuat baik dan rusaknya sebuah ummat. Oleh sebab itulah seseorang dituntut untuk beramal karena terkait dengan kewajiban dia membentuk keluarga yang Islami, sebab tidak akan terbentuk masyarakat yang baik tanpa melalui pembentukan keluarga yang baik dan islami.

“Hai orang-orang yang beriman peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu” (QS. At-Tahrim :6)

Setiap muslim seharusnya mampu membentuk keluarga yang berkhidmat untuk Islam, seluruh anggota keluarga terlibat dalam amal islami di seluruh bidang kehidupan.

3. Kewajiban terhadap dakwah.

Beramal haraki bagi seorang muslim bukan hanya atas tuntutan kewajiban diri dan keluarganya saja, akan tetapi juga karena tuntutan dakwah. Islam tidak hanya menuntut seseorang saleh secara individu tapi juga saleh secara sosial.

“dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebahagian yang lain. mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma’ruf, mencegah dari yang munkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat dan mereka taat pada Allah dan Rasul-Nya. mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah; Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. At-Taubah:71)

“dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar merekalah orang-orang yang beruntung.” (QS. Ali Imran: 104)

Ma’ruf adalah segala perbuatan yang mendekatkan kita kepada Allah; sedangkan Munkar ialah segala perbuatan yang menjauhkan kita dari pada-Nya.

Juga di dalam surat Fushshilat ayat 33:

“siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata: “Sesungguhnya aku Termasuk orang-orang yang menyerah diri?” (QS. Fushshilat: 33)

Allahu a’lam.

Lajeng......